Terima Kasih, Bu Aisyiyah Amini…

Terima kasih, Bu Aisyiyah Amini.
Terima kasih, Bu Aisyiyah Amini. (Banjarbaru, 20 Juli 2021)

Banjarbaru, Selasa 20 Juli 2021. Bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1442 H. Sebuah pesan masuk yang isinya mengabarkan bahwa Bu Aisyiyah Amini, yang nama panggilan beliau sehari-hari adalah Bu Amini, baru saja berpulang ke rahmatullaah. Sebelumnya beliau memang sudah beberapa hari terpaksa dirawat di RSD Idaman Banjarbaru karena terpapar COVID-19. Namun belakangan kabarnya adalah kondisi beliau sudah membaik. Allah SWT berkehendak lain.

Banjarbaru, Selasa 20 Agustus 2013. Bertepatan dengan 14 Syawwal 1434 H. Menjadi hari yang secara resmi mengawali relasi institusional antara kami. Bu Aisyiyah Amini secara resmi dilantik menjadi Sekretaris KPU Kota Banjarbaru. Ternyata, itu tidak hanya menjadi awal sebuah relasi formal. Adalah kenyataaan, bagaimana baiknya pribadi seorang Bu Amini membuat relasi antara kami berkembang. Saya sudah menganggap beliau laiknya seorang kakak, yang tidak saya miliki.

Sebab itulah, sekalipun beliau kembali ke institusi induk, Pemko Banjarbaru, setelah beberapa tahun bersama di lembaga yang sama, komunikasi kami masih berjalan dengan baik. Sangat baik. Sesekali, kami masih makan siang bersama. Beliau biasanya mendesak ingin menjadi penjemput, tapi saya menolak. Karena lebih muda, saya menghormati beliau. Maka jadilah memaksa menjadi penjemput beliau, ke kantornya. Atau, sesekali waktu bertandang ke rumah beliau. Biasanya malam. Ngobrol bersama beliau dan Pak Yuda, suami beliau.

Perpisahan relasi resmi tidak menghentikan hubungan secara pribadi (Ki-Ka: Pak Husein, Pak Yuda, Bu Amini, Bu Nisa, Mhd Wahyu NZ.)

Terakhir, kami makan siang bertiga. Saya dan Bu Amini, lalu juga ada Pak Husein Abdurrahman (Ketua KPU Kota Banjarbaru periode 2013-2018). Jika makan bersama, maka bagian akhir selalu menjadi pertandingan, perebutan. Yakni rebutan siapa yang traktir. Kali itu, beliau menang. Beliau menang karena pakai trik cuci tangan. Tahu-tahu beliau mendadak belok ke kasir. Memang sebuah trik standar dalam buku panduan, tapi nyatanya sering efektif.

Terakhir bertandang ke rumah beliau, tidak lama lalu. Bulan Juni lalu. Malam hari seperti biasa. Ngobrol bersama beliau dan Pak Yuda. Juga seperti yang sudah-sudah, ngobrol rame kian kemari. Hanya saja, sebelum pulang, beliau memberikan bingkisan. Isinya: sajadah dan buku yang berisi surah-surah pendek dari Al Qur’an serta kumpulan doa.

Banyak kisah bersama beliau. Tentu saja tak semua bisa diceritakan. Seiring waktu, semua kisah itu kemudian menjadi ingatan. Menjadi kenangan. Dan segala kenangan yang ada, adalah kesaksian yang nyata atas kebaikan beliau. Bu Aisyiyah Amini.

Lalu dini hari ini, masih di Banjarbaru. Rabu 21 Juli 2021 M. Bertepatan dengan 11 Dzulhijjah 1442 H. Belum lagi genap 24 jam kepulangan beliau. Tentu ada rasa kehilangan yang dirasakan. Hanya saja, melebihi sebuah ucapan selamat jalan, aku ingin merayakan kehidupan beliau. Atas segala apa yang pernah kami jalani di atas bumi ini. Baik dalam sebuah institusi, terlebih lagi sebagai pribadi. Banyak iktibar dari kebaikan pribadi beliau.

Untuk itu semua, dan mengiringi segala doa yang terbaik untuk beliau, kuucapkan: “Terima kasih, Bu Aisyiyah Amini…”

___
Salam. Bahagialah selalu...

Mhd Wahyu NZ
Telegram: @mwahyunz

Tinggalkan sebuah Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *