Banjarbaru, 4 hari yang lalu…
Siang hari, aku dan Mama sedang di samping meja makan. Abah sedang rebahan. Pada tengah obrolan, Mama menerima panggilan telepon. Tidak banyak yang Mama ucapkan, namun jelas mengucapkan istirja. Lalu Mama menyampaikan kabar yang diterimanya melalui telepon barusan, “Isterinya D*** baru saja meninggal dunia. Covid.”
D*** adalah salah satu teman baik adikku. Mama kenal dengannya, demikian pula dengan isterinya. Mama juga tahu bahwa almarhumah pandai memasak. Mama juga tahu bahwa D*** berniat untuk berhenti bekerja di Kaltim, mau buka usaha makanan di Banjarbaru. Bersama isterinya yang pandai memasak. Berkumpul bersama anak-anaknya.
Pada saat isterinya meninggal dunia, D*** tidak bisa menjumpai, karena juga harus dirawat karena COVID-19, di salah satu rumah sakit di Banjarmasin. D*** hanya bisa mendapatkan kabar melalui komunikasi digital.
“Bagaimana dengan anak-anaknya yang masih kecil?” ucap Mama tentang anak-anak D*** yang empat orang. Yang paling kecil berusia 3 (tiga) tahun.
Mama menangis.
Banjarbaru, siang hari ini…
Aku berjalan dari kamar menuju kamar mandi. Sebelum sampai di kamar mandi, kudengar suara isakan dari arah dapur. Karena Abah sedang tidur beristirahat, maka sudah pasti itu adalah suara isakan Mama. Tidak ada yang lain. Kuhentikan langkah lalu berganti arah. Menuju dapur. Kulihat Mama sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon. Sambil terisak pelan.
Aku berhenti. Menunggu Mama selesai bicara melalui telepon. Begitu usai, perlahan akupun bertanya kepada Mama, “Mama kenapa?”. Aku tahu Mama adalah orang yang kuat, sulit sekali menangis jika itu menyangkut dirinya sendiri. Ini pasti menyangkut orang lain. Karena Mama memiliki rasa empati yang luar biasa tinggi.
Mama menjawab pertanyaanku, “D*** baru saja meninggal dunia di rumah sakit,” ucap Mama sambil terisak. D*** meninggal dunia setelah harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat terpapar COVID-19. Empat hari sebelumnya, isterinya mendahului tanpa bisa ia jumpai. Dengan penyebab yang sama.
“Bagaimana dengan anak-anaknya? Anaknya masih kecil,” Mama melanjutkan tentang anak-anak D***.
Mama kembali menangis.
Sementara…
Sementara Mama mengabarkan pada empat hari yang lalu aku terdiam. Hanya bisa memanjatkan doa di dalam hati. Sementara Mama mengabarkan siang hari ini, aku kembali terdiam. Teringat kejadian yang hampir mirip beberapa waktu lalu, tapi bukan di Banjarbaru, bukan di Kalsel.
Sore hari aku telepon seorang kawan, untuk sekedar bicara tentang hal ini. Mungkin bisa membuka pikiran dan kesempatan. Sementara hanya bisa itu.
Ini adalah yang kebetulan diketahui. Bagaimana dengan yang tidak tersampaikan oleh berita? Bagaimana dengan yang tidak diketahui? Berapa banyak sebenarnya hal semacam ini terjadi? Berapa banyak sebenarnya anak-anak yang harus menghadapi kenyataan kehilangan kedua orang tua akibat pandemi? Masih banyak lagi.
Sementara pikiran ini belum memiliki rumusan yang jelas. Aku hanya memiliki prinsip-prinsip mendasar. Bahwa harus dibuka probabilitas adanya kejadian-kejadian sejenis di wilayah manapun di negara ini. Harus ada solusi yang terstruktur dan sistematis untuk mensikapinya. Tidak bisa mengandalkan solusi sporadis.
Tidak ada cara lain, negara harus turun tangan! Karena itulah fungsi adanya negara. Untuk warga negara. Sebab anak-anak juga warga negara.



Tinggalkan Balasan ke Dewi Batalkan Balasan