Akibat ulah sewaktu bersekolah di SMAN 2 Banjarbaru dulu, jadilah untuk sekian lama saya berburu maaf. Karenalah dulu itu, seorang kawan yang kebetulan sudah bolos beberapa hari, akibat ulah saya kemudian diberitakan kena garuk. Kabar beredar bahwa ia tertangkap aparat kepolisian pada sebuah razia preman Landasan Ulin, Banjarbaru.
Bahkan, kisah dibalik peristiwa itu baru saya ceritakan pada wali kelas sewaktu Kelas III SMA dulu, Pak Haryono, seingat saya setelah ±10 tahun berlalu. Waktu itu, Pak Har hanya bisa mengatakan dan mengatakan sayanya itu, sontoloyo…! Karena beliau waktu SMA dulu juga termasuk dalam jajaran korban tak sengaja terkait peristiwa itu.
Tahun demi tahun berlalu, setelah saya membuka kisah itu pada Pak Har. Sayapun terus berusaha mencari keberadaan kawan itu, Bayu namanya. Tak dinyana tak diduga, entah bagaimana caranya, Tuhan berkesempatan mempertemukan kami secara tidak sengaja, betul-betul tidak sengaja.
Sebuah pertemuan yang jauh dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pertemuan itu terjadi di Malang, Jawa Timur. Persisnya di lapangan Gajayana Malang.
Sungguh senang rasanya mengetahui Bayu telah mencapai cita-citanya sewaktu SMA dulu, yakni bergabung dengan Angkatan Udara Republik Indonesia. Saat itu, ia berjalan bersama sang isteri sembari menggendong seorang anak lelakinya. Saya merasa sangat bahagia berjumpa dengannya.
Namun celakanya, waktu itu saya lupa untuk meminta maaf .
Kembalilah tahun demi tahun berlalu, kontak Bayu juga nampak telah berganti. Sampai suatu ketika, saya menerima kabar dari Bayu, tentang kontaknya yang baru. Rupanya kali ini ia sudah ditugaskan dan menetap di Malang. Saya gembira, dan memiliki tekad untuk tidak akan lupa lagi.
Jadilah beberapa bulan tak lama yang lalu, saya ke Malang. Salah satu agenda utamanya adalah menemuinya. Berbekal alamat yang diberikan Bayu, saya meluncur dan mencarinya di kawasan Abdul Rahman Saleh, Pangkalan TNI-AU di Kota Malang. Ternyata, rumah Bayu tak sampai 1 jam dari rumah saya di Malang. Saya beruntung, saya menemukan rumahnya.
Saya bahagia, Bayu nampak senang juga, bertemu kawan SMA. Saya lebih memilih duduk di teras, karena saya memang sangat menyukai teras. Ternyatapun anak Bayu sudah nambah lagi, wow…
Akhirnya, pada kesempatan yang berharga itu, saya membuka kisah masa SMA, dan tak lupa berkali-kali menyampaikan permohonan maaf pada Bayu atas ulah iseng saya dulu.
*nyerah*
Lega rasanya waktu itu, Bayu bilang ia memaafkan, walau sebelumnya sempatlah ia mengatakan sialan sembari tertawa mengingat apa yang terjadi. Tapi tak apalah, yang penting sudah dimaafkan dan dijamu makan siang.
*joged*
dan… ini adalah salah satu episode hidup saya, kala memburu maaf selama sekian lama, nantilah akan saya ceritakan lagi, sebuah perburuan sejenis, akibat kelakukan tak teladan dan lebih parah saya sewaktu tinggal di Bandung dulu. Kepada Yayan namanya, kawan yang kemudian tak lama lalu berkata, “mungkin gara² ulahmu dulu itulah sekarang aku jadi pemberani…”.
*nunggu*



Tinggalkan Balasan ke soulharmony Batalkan Balasan