Setelah Sekian Lama Memburu Maaf (1)

Akibat ulah sewaktu bersekolah di SMAN 2 Banjarbaru dulu, jadilah untuk sekian lama saya berburu maaf. Karenalah dulu itu, seorang kawan yang kebetulan sudah bolos beberapa hari, akibat ulah saya kemudian diberitakan kena garuk. Kabar beredar bahwa ia tertangkap aparat kepolisian pada sebuah razia preman Landasan Ulin, Banjarbaru.

Bahkan, kisah dibalik peristiwa itu baru saya ceritakan pada wali kelas sewaktu Kelas III SMA dulu, Pak Haryono, seingat saya setelah Β±10 tahun berlalu. Waktu itu, Pak Har hanya bisa mengatakan dan mengatakan sayanya itu, sontoloyo…! Karena beliau waktu SMA dulu juga termasuk dalam jajaran korban tak sengaja terkait peristiwa itu.

Tahun demi tahun berlalu, setelah saya membuka kisah itu pada Pak Har. Sayapun terus berusaha mencari keberadaan kawan itu, Bayu namanya. Tak dinyana tak diduga, entah bagaimana caranya, Tuhan berkesempatan mempertemukan kami secara tidak sengaja, betul-betul tidak sengaja.

Sebuah pertemuan yang jauh dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pertemuan itu terjadi di Malang, Jawa Timur. Persisnya di lapangan Gajayana Malang.

Sungguh senang rasanya mengetahui Bayu telah mencapai cita-citanya sewaktu SMA dulu, yakni bergabung dengan Angkatan Udara Republik Indonesia. Saat itu, ia berjalan bersama sang isteri sembari menggendong seorang anak lelakinya. Saya merasa sangat bahagia berjumpa dengannya.

Namun celakanya, waktu itu saya lupa untuk meminta maaf .

Kembalilah tahun demi tahun berlalu, kontak Bayu juga nampak telah berganti. Sampai suatu ketika, saya menerima kabar dari Bayu, tentang kontaknya yang baru. Rupanya kali ini ia sudah ditugaskan dan menetap di Malang. Saya gembira, dan memiliki tekad untuk tidak akan lupa lagi.

Jadilah beberapa bulan tak lama yang lalu, saya ke Malang. Salah satu agenda utamanya adalah menemuinya. Berbekal alamat yang diberikan Bayu, saya meluncur dan mencarinya di kawasan Abdul Rahman Saleh, Pangkalan TNI-AU di Kota Malang. Ternyata, rumah Bayu tak sampai 1 jam dari rumah saya di Malang. Saya beruntung, saya menemukan rumahnya.

Saya bahagia, Bayu nampak senang juga, bertemu kawan SMA. Saya lebih memilih duduk di teras, karena saya memang sangat menyukai teras. Ternyatapun anak Bayu sudah nambah lagi, wow

Akhirnya, pada kesempatan yang berharga itu, saya membuka kisah masa SMA, dan tak lupa berkali-kali menyampaikan permohonan maaf pada Bayu atas ulah iseng saya dulu.
*nyerah*

Lega rasanya waktu itu, Bayu bilang ia memaafkan, walau sebelumnya sempatlah ia mengatakan sialan sembari tertawa mengingat apa yang terjadi. Tapi tak apalah, yang penting sudah dimaafkan dan dijamu makan siang.
*joged*

dan… ini adalah salah satu episode hidup saya, kala memburu maaf selama sekian lama, nantilah akan saya ceritakan lagi, sebuah perburuan sejenis, akibat kelakukan tak teladan dan lebih parah saya sewaktu tinggal di Bandung dulu. Kepada Yayan namanya, kawan yang kemudian tak lama lalu berkata, “mungkin garaΒ² ulahmu dulu itulah sekarang aku jadi pemberani…”.
*nunggu*

Salam,

Mhd Wahyu NZ Β© mwahyunz.id

35 komentar pada “Setelah Sekian Lama Memburu Maaf (1)”

  1. oh… tenang saja, bunda, tidak perlulah meminta maaf, dan tidak ada yg perlu dimaafkan, sebablah itu bukan sebuah kesalahan, kan sayanya juga sadar kondisi. hahaha…

  2. dan, sepertinya bunda juga mau ikut2an berburu maaf pada Pakacil,
    karena selalu saja menuduh Pakacil, makhluk terjail sedunia πŸ˜†
    sudah kah bunda dimaafkan?
    semoga sudah ,amin πŸ˜‰
    salam

  3. hehehe… iya mas, yang namanya utang memang bikin ga enak, tapi untungnya ga ada istilah atau profesi rentenir maaf. kalau sampai ada, matilah kita…
    *nangis*

  4. hidup diutangi kata maaf memang bikin tak nyaman menjalaninya ya, pak. alhamdulillah, itu menandakan adanya kebaikan dalam hidup kita. bersyukur karena hati nurani selalu mengingatkan kita untuk menyesali kesalahan masa lalu.

  5. waaah.. ada pilihan lain ga kang to? misalnya ada yg selera pintar tp nakal, dan bodoh tapi baik, yg jelas saya ga mau pintar tapi pendiam, hidup ga asyik jadinya. hahaha….

  6. Waduh ternyata sudah memakan banyak korban… untung saya ga satu sekolahan mas… dulu saya juga suka bolos…

  7. Dua orang yang cepet diingat. Orang baik atau pintar di sekolah sama orang bodoh atau nakal. Kalau yang biasa-biasa aja cenderung tidak dikenal. So mau pilih yang mana silahkan. Tergantung selera masing-masing. hehehehe πŸ˜† πŸ˜† πŸ˜†

  8. kang ian dot com

    hahaha tak apa apa mas kalau menjerumuskan orang ke surga mah wakaka.. toh efeknya bagus toh πŸ˜›
    saya kira mas ini hebat masih mengingat setiap peristiwa, kalau saya mah g tau deh udah lupa hihi..moga-moga temen2 saya pada ikhlas ya kalau dulu pernah sy dzolimi πŸ˜€

  9. wah segitu lamanya ya? Tapi aku senang karena tetap berusaha mencari dan minta maaf. Biasanya kan dilupakan saja.
    Untung aku ngga jahil, jadi ngga usah berburu maaf πŸ˜€

    EM

  10. walah, bikin takut saja ini mas aan, tapi ya memang benar *nangis*
    untungnya sudah ketemu semua korban fatal saya, walau harus mencari dan menunggu dalam waktu yg sungguh tak lama. semoga mereka memaafkan *doa*

  11. benarlah mas sriyono, bahwa terlalu pintar itu kadang sangat bisa membosankan. bayangkan saja bagaimana perasaan anak saat bapaknya selalu bercerita begini, "bapak dulu nak… selalu belajar dan ranking 1, selalu rajiiiin kalau bikin pr…" nah, apa ga pening itu anak jadinya. hahaha….

    *guling* *getok*

  12. benarlah mba phiy, sangat lega rasanya…
    leganya melebihi orang yang kebelet luar biasa lantas mendapatkan toilet dalam keadaan yang kosong melompong
    oh, sungguhlah ini pengandaian yang juga luar biasa. *plakk…*
    *getok*

  13. menjadi orang nakal, iseng, jahil, memang bikin hidup lebih hidup, banyak yang diceritakan, paling repot jadi orang baik kayak aku, nyaris tidak ada temen atau guru yang diusilin, prestasi? klo ranking 1 mending, rangking 2, sooooo…. almost nobody remember me… huakakkakakaka…..

  14. paham sekali aku gimana lega rasanya kalo maaf sudah tersampaikan, apalagi sudah bertaun-taun kek gitu πŸ™‚

  15. wah… itu sih mirip kesimpulan sepihak dari kawan saya itu, yg juga lama sekali saya mencarinya untuk minta maaf.
    saya sih suka saja bersenang-senang, tapi kan juga takut hukum karma, hahahaha…

    *doa*

  16. hahaha… tenanglah mas jarwadi, dunia itu penuh dengan beragam model manusia, termasuk yg usil & jahil, tapi saya lagi berusaha keras untuk berhenti, takut hukum karma juga sayanya…
    *doa*

Tinggalkan Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas