Kini, kembalilah saya menuju dan berada di Kota Malang, Jawa Timur, sebuah kota yang sungguhlah menjadi bagian penting dalam proses mudahan panjang di hidup saya. Bertahun-tahun hidup di Kota Malang tentu memiliki kesan tersendiri. Ya… saat tulisan ini terbit, maka sesungguhnyalah saya sudah berada di Malang yang menjuluki dirinya sebagai Kota Bunga.
Tahun lalu, ketika juga mengunjungi dan berada di Malang, memang sudah terasa jauh berbeda dengan saat dulu masih berada di sana. Jalanan sudah jauh lebih sesak, gedung-gedung pusat perbelanjaan jauh lebih banyak. Memang tak senyaman dulu, tapi sungguhlah masih banyak kesan tersimpan.
Kali ini, ke Malang adalah untuk mengantarkan dan menemani si bungsu, yang berniat melanjutkan pendidikan ke Pasca Sarjana Universitas Brawijaya, Malang. Mau jadi notaris katanya. Selama tidak jadi teroris, ya didukung saja. Lagi pula kemauannya untuk belajar memang tinggi.
Bisa juga sekalian reuni di kampus dulu, bertemu lagi dengan ibu kantin fakultas, di mana dengan inisiatif & kemurahan hatinya, beliau menyediakan sebuah buku catatan kecil yang khusus berisi catatan utang saya di kantin.
Dulu di kantin saya memang punya hobi ngambil pagi bayar sore, atau ngambil ini hari bayar esok hari. Hobi yang berbahaya.
Atau… bertemu dengan beberapa staf administrasi fakultas, di mana saya suka ngobrol dan becanda sama mereka, entah bicara apa. Walau ada pula yang marah ke saya, sebab saya terlanjur suka pakai sendal jepit kalau di kampus. Pernah suatu kali lupa bawa sendal jepit, akhirnya itu bapak penjual bakso saya paksa untuk meminjamkan sendal jepitnya. Tapi beliaunya tidak mau pas saya paksa untuk pakai sepatu, tukeran.
Bapak penjual bakso… itulah dia orangnya yang setiap hari panas selalulah berdoa, “semoga hujan turun ya mas…”, katanya. Dan setiap kali doa itu meluncur, setiap kali pulalah saya selalu nyahut, “yah… enak sampeyan, pak. trus yang jualan es, doanya apa? minta panas terus? biar esnya laku”. Jadilah kami selalu tertawa. Tapi, sudah bertahun-tahun dan beberapa kali sempat saya kembali ke kampus, tiada pernah lagi melihat beliau. Entah kemana.
Juga selalu teringat saya pada Mak Ti, sosok perempuan hebat yang selalu duduk di teras kampus itu. Tidak usah bicara feminisme atau emansipasi atau kesetaraan gender, Mak Ti sudah melebihi itu semua, Mak Ti itu merdeka dan setara. Mak Ti adalah perempuan hebat, yang pernah membuat air mata saya menetes kala mengingatnya. Saya beruntung pernah mengenalnya. Damailah di sana, Mak Ti… rinduku untukmu…
*doa*
Kawan²… ya mereka kini sudah menempuh jalan hidupnya masing², terpencar kemana-mana. Tapi tentu masih saja ada yang berada di Malang. Mereka juga mengisi waktu hidup saya, yang sedapat mungkin saya kunjungi kalau berada di Malang. Bersama mereka tak hanya waktu siang, tapi juga malam. Kawan… adalah salah satu anugerah yang tiada ternilai.
Malang, sungguh menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidup ini. Bukan karena juga banyak punya sahabat wanita, yang pasrah & ikhlas saya terima sebagai nasib saya *plakk…* tapi karena segala sesuatunya. Baik & buruknya, manis & pahitnya.
Malang yang dulu membuat saya kaget, karena seporsi nasi goreng atau soto lamongan seharga Rp600,- (enam ratus rupiah) !!! Malang yang membuat saya tau dan bisa makan nasi jagung, di Malang saya kenal itu yang namanya menjes, walau di Malang pula saya kesulitan menemukan ikan asin idola, ikan telang yang nikmatnya bukan buatan. Malang pula yang membuat Urang Banjar macam saya ini bisa makan nasi di jawa yang pulen itu.
Sempat ngekos juga di Malang, banyak kenangan tentang kos di Malang ini, di mana sang ibu kos pernah manyun gara² saya garap soal telpon rumah, atau itu kosan puteri sebelah yg turut menyelamatkan saya sewaktu dilobi pindah paspor ke NII, atau bagaimana membuat kawan kos lari tunggang langgang di tengah malam buta, sekeluarnya ia dari toilet, dikiranya ulah makhluk gaib.
Di Malang juga ada asrama Mahasiswa Banjarbaru, juga ada asrama mahasiswa Kalimantan Selatan, dan beberapa asrama kabupaten/kota se Kalimantan Selatan lainnya. Malang, yang bertahun-tahun lalu di sana hanya pernah sekali saya rasakan aliran listrik yang padam.
Malang, sungguh memiliki banyak kenangan indah. Kala saya kenal dengan … ah ga jadi ah… terlalu rumit yang satu ini kalau diceritakan, bahayyyaaa… kalau kata Reza Artamevia sih, biar jadi kenangan… tentulah berbentuk kenangan indah, bukanlah yang malang, walau tentang Malang.
*siul*



Tinggalkan Balasan ke Kaget Batalkan Balasan