Sungguh, ini bukanlah sebuah kisah yang patut untuk diteladani, saya bagi hanya sekedar untuk mengingatkan bapak/ibu/saudara(i) agar berhati-hati dan tidak cepat panik. Walau peringatan ini sebenarnya memiliki unsur pembelaan diri yang teramat terang benderang, kalau menurut istilah pak SBY yang mungkin bermaksud menyindir PLN. Eh… tunggu.. soal PLN ini adalah pemaksaan saya pribadi atas pemaknaan.
Seringkali kalau ditanya usia, seringlah saya menjawab 16 tahun lebih. Kenapa? Karena biar ada sedikit permakluman atas sejumlah kelakuan yang kadang saya sadar tidak patut untuk diteladani. Sebagaimana yang terjadi tahun lalu, kalau tidak salah.
Sayalah orangnya yang jalan-jalan bersama beberapa orang kawan dari Banjarbaru ke sebuah pusat perbelanjaan di Banjarmasin. Untuk apakah jalan² itu? Tentu untuk lihat-lihat, karenalah saya sudah kapok pernah jatuh dalam rayuan SPG cantik untuk membeli sebuah hape. *siyalll… ! Sehingga membuat saya kini ekstra hati² menghadapi SPG. Kalau SPB? owh… tidak akan mempan, sebab saya masihlah lelaki normal.
Putar-putar beberapa lama di dalam toko kelontong besar -demikian saya mengistilahkan toko yang merupakan bagian dari jaringan ritel nasional itu- juga tidak membuat saya betah. Pegang ini dan itu, tak jualah saya membelinya.
Karena apa? Karenalah tujuannya untuk lihat-lihat belaka, dan saya bingung, saya bosan.
Tuingg… kecerdasan saya menemukan momentum di tengah rasa bosan. Celingak-celinguk sayanya ke arah atas dan beberapa sudut lorong. Nyari apa? Memastikan keberadaan CCTV dan pramuniaga!!! Karena operasi harus dijalankan dengan aman, lancar dan terkendali. Sebab apa? Sebab ialah ini operasi khusus mengatasi rasa bosan berada di pusat perbelanjaan.
Mulailah tangan bergerak, melepas beberapa label harga dari sejumlah barang yang berbeda. Tapi karenalah saya baik, maka label itu saya pasang kembali. Tapi pada barang yang berbeda!!!
Itu wajah kawan saya, bingung… dan pada saat seperti itulah saya selalu berusaha untuk memberikan motivasi pada kawan, “tenaaang, amaaan…”, katanya saya. Karena dia bingungpun tiada guna. Malah aneh, kenapa justru dia yang bingung? Sementara sayanya tenang. *plakk…*
Operasi selesai. Saya ajak mutar² lagi dan terus pulang. Sudah tidak bosan sayanya. Kalau kemarin itu tertangkap? Tau lah… jalani saja. Sebab bagi saya hidup ini sering harus mengalir saja. Terlalu banyak berpikir itu bikin rambut lambat gondrong. Saya tidak suka itu. Termasuk harga-harga promosi yang hitungannya kadang bikin saya bingung, dan bingung bersama-sama itu tentu lebih baik dari pada bingung sendirian, bukan?



Tinggalkan Balasan ke koeshariatmo Batalkan Balasan