Mungkin pernah saja mendengar ada yang bilang bahwa nomor yang dia punya itu hanya bisa dihubungi via WhatsApp alias WA. Bahkan pernah sekali waktu ada anak muda yang bilang dia tidak punya nomor telepon, tapi hanya punya nomor WA! Bagaimana mungkin seorang anak muda tidak memahami apa itu nomor WA dan nomor telepon? 🙁
Pertama kali saya mencoba menggunakan WA adalah dulu sekali. Dari seluruh kontak yang ada di telepon saat itu, tak sampai sepuluh orang yang menggunakannya. Sehingga bisa dibayangkan kapan waktu menggunakannya. Jauh sebelum WA populer sebagaimana kemudian. Jadi bagi yang baru beberapa tahun belakangan ini, ya maaf, sangat terlambat 😯
WA itu memerlukan koneksi internet. Kalau jaringan internet sedang down, atau paket data internetnya sudah habis, ya tentu tidak bisa terhubung. Sementara telepon biasa tidak ada urusan dengan jaringan internet. Selama ada sinyal operatornya, ya masih bisa. Minimal bisa dihubungi, walau untuk menghubungi tergantung pulsa. Sementara internet juga numpang pada sinyal operator.
Sehingga dengan sangat terpaksa, sejak beberapa waktu lalu saya sudah mulai membersihkan kontak yang hanya bisa dihubungi melalui WA. Kontak yang dapat dipastikan begitu, mau tak mau akan saya hapus dari daftar kontak di telepon. Termasuk keluarga sendiri, dan itu terjadi.
Alasannya sederhana, nomor telepon itu kodratnya ya buat telepon, atau buat sms (yang sampai sekarang masih sering saya gunakan). Mau mempergunakan aplikasi perpesanan instan apapun, nomor teleponnya ya harus tetap aktif. Bisa dihubungi melalui telepon biasa. Kalau tidak bisa, percuma saja untuk disimpan.
Selain itu ada perbedaan prinsip mendasar, sementara saya berprinsip tidak apa-apa tidak memiliki paket data internet yang penting nomor aktif, di sisi lain ada yang berprinsip tak apa-apa nomor teleponnya tak aktif yang penting WA aktif. Bagaimana mungkin dua prinsip dasar ini bertemu?
Hal ini terlepas dari fakta bahwa saya tidak -dan tidak mau- menggunakan WA. Itu soal lain. Ada beberapa alasan penting kenapa saya tidak mau mempergunakannya. Itu tidak perlu dibahas di sini. Lagi pula sudah disampaikan, saya sudah pernah mencoba WA jauh sebelum populer, saat awal² WA mulai bisa digunakan di Indonesia.
Pada akhirnya, mohon maklum.



Tinggalkan sebuah Komentar