Baiklah sodara-sodara sebangsa dan setanah air, tapi mungkin sementara ini tidak termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, ini pas lagi musimnya penerimaan mahasiswa baru di Indonesia, bukan? bukaaaaan… *plakk…*
Apa kabar sekarang? Masihkah ada yang itu dinamakan dengan Opspek atau Ospek atau Mapram atau Probinmaba (istilah di kampus saya dulu) atau istilah lainnya? Masihkah ada? Baiklah, ada atau tidaknya tak masalah, yang penting mahasiswa angkatan lama masih bisa memandang angkatan baru yang masih gress dan cerah ceria karena belum khawatir akan masa depannya.
Sidang pembaca yang budiman dan dirahmati oleh Tuhannya masing-masing, ini cerita memang tentang kegiatan orientasi untuk mahasiswa baru di fakultas saya dulu. Probinmaba namanya. Apalagi bersama dengan banyak mahasiswi menarik.
Saya lupa kejadian tahun berapa, cuma waktu itu ada seorang peserta perempuan kesurupan sampai dengan malam hari. Saya sekedar memantau, karena bukan sudah waktunya lagi menjadi panita.
Sampai akhirnya ada panitia yang bingung dan lapor soal itu pada saya.
Begitu saya tanya seluruh kejadian sebelum ia jatuh kesurupan, panitia itu menjawab, bahwa ada seorang panitia pria yang sore harinya marah-marah dan menendang sebatang pohon di halaman belakang. Bukan kejadiannya yang menyedot perhatian saya, tapi sosok panitia pria itu yang menimbulkan ide, sebut saja namanya DR (Inisial dari Do** Ro**, yang tidak akan saya sebutkan namanya).
“Kamu cari DR sekarang juga, suruh menghadap ke saya!”, itu perintah langsung turun dengan serta merta kepada si panitia. Tak lama berselang, DR muncul. Saya konfirmasi kebenaran peristiwa sore harinya, DR mengakui. Saat itu juga DR saya ajak untuk mengikuti saya. DR tidak tau apa yang ada dalam kepala saya, ia tidak tahu, bahwa saya akan gembira.
Di sudut belakang sebuah gedung (Prodi Bahasa Inggris kalau tidak salah), mulailah saya memberikan petuah dan perintah berbau mistis pada itu DR. Dengan sikap serius saya bilang, “bagaimanapun kamu harus minta maaf di pohon itu! minta maaf untuk apa yang telah kamu lakukan”.
“Pakai bahasa apa?”, DR bertanya dan saya jawab, “terserah, mau pakai bahasa inggris, indonesia atau jawa, sama saja. Mereka akan mengerti apapun yang kamu ucapkan, yang penting minta maaf”.
Nampak jelas keraguan & kebingungan DR untuk melangkah, tapi akhirnya ia melangkah juga. Menuju sebatang pohon di tengah lapangan yang gelap. Saya beringsut mundur ke sisi gedung agar tak terlihat olehnya tapi masih bisa mengamati apa yang terjadi.
Itulah dia akhirnya, DR, berdiri dengan takzim, kedua tangannya menyilang di depan badan seperti pagar hidup pemain bola yang melindungi tendangan bebas, kepala menunduk. Sangat takzim. Oh… sungguhlah itu sebuah momen yang berharga dan tidak akan pernah terulang.
*doa*
Atau lebih tepatnya tidak akan terbalaskan, jika saja DR tau, bahwa saat ia menunduk takzim itu, sesungguhnyalah saya tengah menikmati momen sendiri, momen kemenangan dan keriangan. Sambil menahan perut agar tidak kram karena menahan suara saat tertawa, di pojok sebuah gedung.
Masalahnya adalah, niat saya bawa DR ke situ bukan untuk menyelesaikan itu soal kesurupan, tapi memang mau lihat apakah bisa membuat DR berdiri sendirian dan ngomong di depan pohon, malam hari, gelapΒ²an pula. Bahkan kalau ada yg lihat, bisa jadi DR lah yang disangka sebagai makhluk gaibnya. Lah… manusia kok ngomong sama pohon malamΒ² di lapangan.
*ngakak*
Saya hampir yakin, kalau saja DR tau, ucapan pertamanya pada saya adalah, uassuuuu… jancuuuuuk… sebagai bentuk ekspresinya, yang juga pasti akan saya sambut dengan tertawa. Karena memang begitulah relasi yang saya bangun dengan adikΒ² tingkat di kampus dulu, tanpa ada senioritas, bahkan mereka saya bebaskan untuk langsung panggil nama, tanpa embelΒ² mas atau yang lainnya, tapi siapΒ² saja di ajak gila, kan kawan…
*siul*



Tinggalkan Balasan ke Ikkyu_san Batalkan Balasan