Saat sedang konsen-konsesnya duduk di depan monitor, tiba-tiba saja ada suara notifikasi di ponsel, yang ternyata pemberitahuan pada sebuah aplikasi bahwa barang yang ditunggu telah sampai. Bergegaslah pergi keluar kamar untuk kemudian ke depan rumah, tapi ternyata tidak melihat apa pun yang mirip dengan sebuah paket. Lantas segera pergi ke belakang, bertanya kepada Mama apakah ada menerima sebuah kiriman? Mama menjawab tidak ada.
Pergi lagi ke teras, tengok tetangga kanan kiri, nampak sepi. Tadinya berpikir siapa tahu dititipkan ke tetangga. Tapi begitu mengedarkan pandangan ke halaman, tarraaaa…. ada sebuah kotak hitam yang teronggok di halaman. Wujudnya persis biasanya sebuah kiriman/paket. Ternyata benar itu dia, barang yang ditunggu dari Surabaya.
Tapi ya pada saat bersamaan juga jadi bingung, bagaimana bisa barang yang dikirim menggunakan jasa pengiriman Anteraja tersebut bisa sampai ada di halaman? 🙄
Karena bingung itulah lalu melakukan analisis sebagai berikut:
- Setelah dilakukan cek ulang dengan seluruh penghuni rumah, tidak ada satu orang pun yang mendengar ada yang datang yang biasanya menyapa atau memanggil, baik dengan salam atau lainnya. Jasa pengiriman lain biasanya ada yang berteriak, “Pakeeeeet…”.
- Juga bisa dipastikan tidak ada yang mendengar ada pintu pagar yang terbuka. Karena di rumah ini, pintu pagar dan pintu depan rumah adalah sengaja dibiarkan berbunyi, agar tahu saat ada orang yang buka. Sementara pintu lain di dalam rumah dikasih minyak agar sepi.
- Sebagai penerima kiriman yang sah, aku tidak pernah sekalipun menerima panggilan telepon dari kurir, yang biasanya menelepon saat ada kiriman, namun orang rumah tidak menyahut saat dipanggil oleh kurir.
Berdasarkan kepada fakta-fakta tersebut, dan dengan memperhatikan posisi paket yang ada di halaman, maka kemudian kubangun sebuah asumsi awal bahwa paket itu diletakkan di luar. Pada bangku depan pagar. Tapi kemudian dibawa oleh burung, atau dibawa oleh kucing ke tempat sebagaimana kemudian ia ditemukan teronggok.
Tapi asumsi awal itu lemah sekali. Karena burung-burung yang biasanya ada di halaman, itu sangat sangat kecil. Cuma suaranya yang nyaring. Sementara kucing-kucingku semuanya juga sedang tiduran di dalam rumah, dan sangat sulit membayangkan mereka harus memegang kotak paket untuk kemudian melompati pagar. Sebab harus juga kuakui, kucing-kucingku tidak secanggih Tom.
Maka dibangunlah asumsi berikutnya, yakni paket masih diletakkan di luar, tiba-tiba ada angin hebat yang membawa paket tersebut ke pekarangan, atau dengan kata lain membuat paket itu terlempar ke dalam. Tapi lagi-lagi ini tak mungkin. Karena benda-benda di sekitarnya baik-baik saja. Jika ada angin hebat, maka dedaunan kering di sekitar sudah pasti akan berhamburan.
Karena sudah buntu, maka satu-satunya opsi yang masuk akal adalah paket tersebut dilemparkan oleh kurir. Jika kemungkinan terakhir ini yang benar, apa mau jasa pengiriman Anteraja berubah menjadi Lemparaja? 😯
Jika ternyata Anteraja mau berubah menjadi Lemparaja, maka mari bangun mekanisme lempar-lemparan. Segala proses yang dilakukan mesti menggunakan cara dilempar. Ya harus konsisten, jangan pilih-pilih. Misalnya, jika menyerahkan dengan cara dilempar, maka pelanggan saat mengucapkan terima kasih juga dengan cara melempar. Begitu contohnya.
Tapi ingat, karena kurir adalah ujung tombak usaha jasa pengiriman barang, maka kurir adalah representasi terdepan perusahaan. Kurir memiliki andil besar dalam membangun citra perusahaan dan kepercayaan konsumen. Jika Anteraja nanti menjadi Lemparaja, maka kurirnya setelah melempar jangan langsung pergi, harus bersedia menunggu untuk dilempar juga.



Tinggalkan Balasan ke warm Batalkan Balasan