Beberapa malam lalu, jadilah saya mendengarkan kisah dan curhat dari beberapa perawat dari sejumlah Puskesmas di Kota Banjarbaru. Ingatlah bahwa, Puskesmas di sini adalah akronim dari Pusat Kesehatan Masyarakat, dan bukan salah satu jenis pakaian modis anak mudi yang berarti PUSer KElihatan Seluruh MASyarakat.
Mendengarkan ragam curhat ini memanglah sesuatu yang saya senang melakukannya. Sebab tak banyak modal, hanya perlu kuping atau kemampuan untuk mendengar. Sekalipun bisa jadi “bak sampah“, tapi sungguhlah bisa membahagiakan orang lain yang pada akhirnya juga membuat saya bahagia karena senang melihat orang bahagia.
Kembali ke pokok persoalan di awal cerita…
Beberapa perawat di sejumlah Puskesmas di Banjarbaru ini cerita tentang kondisi kerja mereka yang secara umum mungkin dapat saya bagi atas dua kategori permasalahan. Yaitu:
- Persoalan yang berada pada tingkat unit kerja atau puskesmas masing-masing; dan
- Persoalan yang menjadi urusannya Pemerintah Kota Banjarbaru, melalui instansi terkait.
Walaupun demikian, tetap saja secara prinsip Pemerintah Kota Banjarbaru tidak bisa lepas tangan dan lantas menisbahkan kesalahan begitu saja kepada institusi puskesmas jika ada persoalan, sebab ini adalah sebuah sistem yang saling terkait.
Dari seluruh isi curhatan itu, saya hanya akan mengungkapkan dua hal saja melalui media ini, sisanya akan saya sampaikan secara langsung saja kepada mereka-mereka yang terkait dan berkepentingan, entah di Pemko Banjarbaru atau di DPRD Banjarbaru. Ibarat kata, sayanya kan cuma selang…
Permasalahan yang cukup mereka risaukan di antaranya adalah:
Obat yang hampir kadaluarsa
Ya… mereka menyampaikan bahwa kerap kali mendapatkan jatah obat yang sudah dekat dengan masa kadaluarsa, sehingga tak jarang mereka tidak akan memberikan obat tersebut untuk masyarakat karena kasihan pada masyarakat. Namun mereka tidak tau, apalagi saya, apakah ini karena proses distribusi yang terlambat, ataukah memang berawal dari proses pembelian (pengadaan) obat²an, karena disinyalir, obat²an yang sudah mendekati masa kadaluarsa itu harganya lebih murah. Nah, saya tidak tau pasti soal ini. Ada yang tau?
Peralatan Kesehatan yang tak sesuai kebutuhan
Mereka juga menyampaikan, seringkali mendapatkan dropping peralatan kesehatan dari Dinas Kesehatan Banjarbaru yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Justru peralatan pendukung kerja yang mereka minta dan yang sesuai dengan kebutuhan malah tak disediakan.
Akhirnya, tentu sajalah saya yang hanya berposisi sebagai pendengar tidak bisa memberikan jawaban atau keputusan, sebab sudah pasti itu bukan wilayah saya. Kewajiban moral saya hanyalah menangkap dan menyalurkan hal-hal semacam ini. Sisanya urusan pihak yang berwenang.
Permasalahan di atas itu adalah apa yang terjadi di bawah, pada ujung tombak sistem pelayanan kesehatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Ibarat aliran sungai, itu adalah hilir, bagian hulu lah yang harus dipertanyakan, jika memang ada masalah. Namun tentu, jika ada keluhan prinsipil macam itu, tentu wajar jika orang lain menduga kuat memang ada masalah.
Sebagian perawat di Banjarbaru itu menyampaikan, bahwa mereka tidak tau harus melakukan apa. Mereka hanyalah pribadi-pribadi yang merasa peduli dengan keadaan, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Sungguh, sebuah kondisi yang dapat memunculkan apatisme jika tidak ditanggapi. Mereka juga bukanlah orang² yang berniat ngurusi proyek² pengadaan itu ini, mereka cuma berharap agar mendapat dukungan dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.
Percayalah, bagi pihak² yang mungkin terkait, jika nyasar tak sengaja baca ini tulisan, maka sesungguhnya tidak usah mencari identitas mereka yang telah bicara pada saya, sebab itu bukan substansi masalahnya! Biasanya begitu sih, bukan ngurus persoalannya malah sibuk nyari siapa yang bicara. Bertanya pada sayapun percuma, sebab saya tidak pernah mau buka, karena sekali lagi, siapa itu bukanlah substansinya, melainkan apa.
Sudah dulu untuk malam ini, sayanya masih belum tau bakal nyasar dan nangkring di parkiran atau di sudut manakah lagi, mungkin sekedar ngobrol sebentar dengan satu dua orang yang saya belum kenal. Siapa tau dapat pelajaran baru lagi. Karena hidup itu memang jangan dibikin beban.



Tinggalkan Balasan ke Bayu Batalkan Balasan