Ya, sesuai judul yang jelas dan tegas. Saya memang benci alias tak suka Kota Banjarbaru ini, khusus di malam minggu! Malam lainnya masih suka. Kenapa demikian? Karena pada malam minggu Banjarbaru ramainya tak terkira. Setidaknya itu menurut saya dan beberapa orang yang mungkin satu selera.
Jalan Panglima Batur di Banjarbaru, menjadi begitu padat dengan anak-anak muda yang lalu lalang menggunakan sepeda motor. Baik dalam rombongan kecil ataupun agak banyak, yang celakanya kadang ada saja yang merasa jalan milik sendiri. Belum lagi yang ngebut.
Ya… saya memang benci Banjarbaru di malam minggu.
Banyak orang yang berdatangan, khususnya anak muda dari daerah lain ke Banjarbaru. Oh… soal ini tentu tak masalah, lagi pula saya bukan penganut chauvinisme. Tapi kalau datang untuk bikin kisruh dan tak tertib jalanan, ini soal lain. Tapi apa mau di kata, mayoritas yang bikin kisruh jalanan itu bukanlah anak muda Banjarbaru.
Kadang saya merasa, hebat betul anak² muda sekarang ini, kecil-kecil sudah pada kerja, buktinya bisa menghamburkan BBM dengan seenaknya. Perkara ternyata di rumah merengek minta uang bensin dan jajan pada orang tua, ah… saya tidak tau itu. Salah orang tuanya sendiri.
Ya… kini saya benci Banjarbaru di malam minggu.
Pada beberapa sudut kota Banjarbaru yang masih terpaksa remang, beberapa pasang muda-mudi mojok dengan asyiknya di atas jok-jok sepeda motor. Kadang terlihat ada pelukan, kadang ada yang terlihat seperti mau meluk tapi ragu-ragu. Hal ini tak kami temukan bertahun-tahun lalu.
Namun, saya juga merasa bersyukur, sumber-sumber di Satpol PP Kota Banjarbaru, yang beberapa kali melakukan razia ketertiban telah pula melakukan pendataan, bahwa 100%, sekali lagi 100%, mereka yang terjaring razia ketertiban macam itu adalah bukan anak muda Banjarbaru. Oh… saya masih bahagia.
Ya… saya sungguh terpaksa benci Banjarbaru di malam minggu.
Benci dengan kisruhnya lalu lintas, benci dengan perilaku sebagian dari mereka itu. Namun sayapun sadar sepenuhnya, Banjarbaru hanyalah sebuah kota, yang hanya dihidupkan dan digerakkan oleh manusia yang ada di dalamnya. Manusia-manusia jugalah yang mampu merusak suasana.
Namun sungguh, tidaklah saya benci dengan asyiknya orang-orang bersantai dan nogkrong melewatkan malam di lapangan Murdjani, alun-alun Kota Banjarbaru. Juga pada mereka yang menikmati taman-taman kota. Walau sama di malam minggu.
Walau pada dasarnya saya tak suka melakukan hal yang sama, hanya sekali-sekali saja, kalau lagi mau atau ada yang mengajak bertemu.
Ya…. itulah judulnya, saya Benci Banjarbaru di Malam Minggu.
Tapi setelah saya baca ulang tulisan ini dari atas, ternyata bukanlah Banjarbaru yang saya benci, melainkan suasana Banjarbaru yang rusak atau dirusak di malam minggu, semrawut dan menyesakkan. Namun tentu ini menurut saya.
dan… pada akhirnya saya tidak jadi benci Banjarbaru di malam minggu, hanya benci pada suasananya. Oh… inipun bisa dibatalkan dan diganti, menjadi pada perilaku yang merusak suasana Banjarbaru di malam minggu. Apapun itu, yang pasti saya tak pernah benci Banjarbaru ataupun malam minggu.
___
Banjarbaru, pada suatu malam minggu
setelah sore hari kaki saya terinjak paku
*nangis*



)
Tinggalkan Balasan ke Sriyono Semarang Batalkan Balasan