Sering mendengar ucapan atau pidato yang seperti ini? “Pancasila bukan sekadar dokumen historis atau teks normatif yang tertulis dalam pembukaan UUD 1945, ia adalah jiwa bangsa, pedoman hidup bersama, serta bintang penuntun dalam mewujudkan cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.” Redaksi boleh berbeda, substansinya sama saja. Bisa jadi reaksi perasaan pendengarnya pun sama, bosan.
Kalimat itu hanya salah satu contoh, yang didapati ketika membaca sebuah berita. Tentang peringatan Hari Lahir Pancasila di Kota Banjarbaru. Cari saja berita yang berisi sambutan atau amanat yang disampaikan dalam Peringatan Hari Lahir Pancasila pada beberapa daerah, besar kemungkinan akan memiliki nuansa yang lebih kurang sama.
Misal pada sebuah berita lain, Bupati Banjar, Saidi menyampaikan, “Oleh karena itu, melalui Asta Cita, kita dipanggil untuk melakukan revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam segala dimensi kehidupan, dari pendidikan, birokrasi, ekonomi hingga ruang-ruang digital.” Kali ini dengan membawa Asta Cita, ajakan tetap sama.
“Memperkokoh ideologi Pancasila berarti menegaskan kembali bahwa pembangunan bangsa harus selalu berpijak pada nilai-nilai Pancasila,” demikian Bupati Balangan dalam sebuah berita lainnya. Ya intinya lebih kurang sama saja. Tidak ada yang istimewa.
Sepanjang bisa diingat peringatan Hari Lahir Pancasila yang diikuti, ya begitulah adanya. Intinya bahwa Pancasila itu penting dan bukan sekadar sebuah sejarah kelahirannya, ajakan untuk kembali kepada nilai-nilai Pancasila, dan lain hal yang senada dengan itu. Memang tidak ada yang salah.
Hanya saja, ketika sebuah gagasan atau ungkapan terlalu sering dipakai, dalam Bahasa Indonesia disebut klise, sebuah kiasan. Bukan klise yang berarti gambar negatif pada film potret. Sayangnya, pesan dan gagasan yang disampaikan dalam sambutan resmi para kepala daerah atau yang mewakili dalam momen tersebut sepertinya sekadar menangkap sebuah momen. Untuk kemudian dapat dilihat kembali pada suatu ketika.
Seperti halnya negatif film potret, yang menangkap sebuah peristiwa atau objek. Tidak peduli klise tersebut berisi 24 (dua puluh empat) atau 36 (tiga puluh enam). Kemudian dicetak, lalu masuk ke dalam sebuah album foto atau diberi bingkai yang indah untuk dipajang.
Belum pernah menemui sambutan atau pidato kepala daerah yang misalnya menyampaikan arahan, “Jika Anda melakukan A, B, dan C, berarti Anda tidak mengamalkan Pancasila. Saya minta Anda mengundurkan diri atau saya berhentikan.” Atau mungkin menyampaikan sikap, “Karena saya telah melakukan ini atau itu, berarti saya tidak Pancasilais, oleh sebab itu saya menyatakan mengundurkan diri.”
Atau mungkin paling tidak, mengutip lirik lagu Iwan Fals, yang awal dinyanyikan pada medio 70-an dulu, “Garuda bukan burung perkutut. Sang saka bukan sandang pembalut. Dan coba kau dengarkan, Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut.” Memang agak lain diksinya. Tapi pesannya positif.



Tinggalkan sebuah Komentar