Sejauh bisa mengingat, rasa-rasanya hanya pada akhir-akhir ini saja komentar spam terkait judi online terlihat begitu masif. Awal memperhatikan hal tersebut adalah pada komentar² YouTube. Bahkan konten dakwah tidak luput dari gempuran mereka. Termasuk di blog ini.
Istilah spam yang berasal dari komedi sketsa BBC tahun 1970, kemudian menjadi tidak lucu lagi. Sudah lebih dari meresahkan dan menjengkelkan. Spam, yang dalam Bahasa Indonesia ada juga yang menyebutnya sebagai pesan tubian, saat ini sudah sangat merusak dan membahayakan.
Sulit diterima akal sehat bahwa para pengirim santu judi tersebut yakin dan percaya bahwa ada kehidupan sesudah mati, yang pada saat itu mereka akan diminta pertanggungjawaban atas perbuatannya.
Pada sisi lain, tampaknya santu judi ini juga semakin marak ketika pemerintah mulai menyatakan gencar memerangi judi online atau daring. Bisa jadi omset mereka menjadi berkurang, atau bahkan jauh berkurang. Sehingga mereka perlu “pemasaran” yang lebih gencar bahkan membabi buta.
Namun ada yang lebih aneh, yakni masih saja ada yang percaya bahwa dirinya akan mendapatkan keuntungan bahkan kekayaan dari judi online. Ini hal yang benar-benar aneh. Mungkin tidak usah dulu bicara soal halal-haram, sampai saat ini saja, tak pernah sekalipun aku menjumpai seseorang yang hidupnya tenang dan nyaman karena judi.
Kembali ke soal santu atau spam judi, ada sedikit perbedaan. Jika santu komentar² di YouTube menggunakan Bahasa Indonesia yang seolah berusaha menyampaikan pesan betapa beruntung dan untungnya mereka, jika di blog ini santu yang dikirim semuanya menggunakan bahasa inggris. Hanya tautan yang diberikan mengarah kepada situs judi yang berbahasa Indonesia.
Jika dilihat dari IP yang digunakan pengirim santu judi di sini sampai saat ini, 111.95.152.69:

Dari seluruh santu yang pernah sangkut di sini, santu judi inilah yang paling memuakkan. Karenanya, dengan sangat terpaksa mulai saat ini coba menggunakan pengaman tambahan dalam formulir komentar, yakni menggunakan hcaptcha untuk mendampingi akismet.
Sedikit kerumitan mungkin diperlukan, untuk kebaikan.



Tinggalkan sebuah Komentar