Ini bukan hal baru. Bahkan pada bulan Juni enam tahun lalu sudah pernah dicatat. Ini memang catatan tentang sebatang pohon mangga, yang tidak sekadar penting untuk menghasilkan oksigen, namun juga berbuah dan itu bisa dinikmati.
Akhir-akhir ini sudah beberapa orang mampir ke rumah. Semuanya lelaki. Maksud dan tujuannya sama, yakni ingin membeli buah mangga yang terlihat cukup banyak sedang bergelantungan di pohonnya. Untungnya sampai saat ini tidak ada yang kasar macam enam tahun lalu itu.
Kali ini, alasan yang disampaikan untuk membeli cukup beragam. Dari yang memang berkata akan dijual lagi, ada yang buat orang sunatan, dan lainnya. Lumayan variatif. Mereka tidak salah dengan niat ingin membeli itu. Cuma botol saja yang tidak ketemu tutupnya. Gayung tidak bersambut.
Karena sedari awal memang tidak pernah memiliki niat untuk mengomersialkan itu buah. Niatnya buah mangga itu untuk dinikmati mereka yang ingin atau perlu, seperti mengidam. Syaratnya mudah, yakni ingat orang lain yang mungkin juga ingin. Sehingga rumusnya jelas, jangan kemaruk.
Terlepas dari variasi alasan yang disampaikan, terdapat sebuah kesamaan pada beberapa orang di antara mereka yang tengah menawar itu. Yakni kali ini juga menyebutkan sejumlah uang yang ditawarkan. Itu biasanya disampaikan setelah aku sudah menolak untuk menjual. Mungkin untuk menaikkan posisi tawar.
Uniknya, seluruh mereka yang menyebutkan nominal itu memiliki nilai tawaran yang sama. Plek tidak ada beda. Mungkin itu memang standar harga satuan yang berlaku di kalangan mereka. Wallaahua’lam. Ketika negosiasi memasuki domain matematis, maka aku pun memberikan respons yang sama.
Sebab itulah akunya selalu menjawab, bahwa jangankan senilai yang ditawarkan, sepuluh kali lipatnya tetap tidak akan dijual. Itu biasanya aku selalu sambil menyebutkan nominal yang sekurangnya memang sepuluh kali lipat dari yang mereka sebutkan sebagai penawaran. Selalu saja setelah itu, tidak lama kemudian tercapai kesepakatan bahwa kami tidak sepakat adanya jual beli mangga.
Alhamdulillah, mangga tahun ini berbuah dengan lebih baik dari tahun sebelumnya. Mungkin karena faktor cuaca. Buahnya tidak saja lebih banyak, tapi juga lebih bagus. Sehingga cukup banyak bisa dibagi ke mana-mana. Setiap orang yang lewat dan melihat mangga yang jatuh, juga bebas ambil.
Dan, untuk ke sekian kalinya, buah mangga di depan rumah itu memang tidak untuk dijual!



Tinggalkan sebuah Komentar