Bagi penggemar menu masakan berbahan dasar utama ikan asin, mungkin ini adalah salah satu menu paling penting dan dikenal. Khususnya bagi kalangan masyarakat Banjar. Namanya masak asam telang, atau jika di-Indonesia-kan biasanya menjadi telang asam manis. Baik dalam bahasa Banjar maupun Indonesia, sama-sama memuat ‘asam’. Itu mungkin disebabkan oleh salah satu bahan utamanya adalah asam kamal atau asam jawa. Namun, siapa yang benar-benar mengetahui bagaimana sejarah terciptanya menu masak asam telang tersebut?
Karena memang sekadar sebagai seorang penikmat, maka jangan berharap catatan ini memuat tentang bagaimana cara membuat menu masak asam telang. Selain itu juga bukan tentang ulasannya, karena lidah terlalu subyektif. Silakan bagi yang suka rasa manisnya dominan, atau mungkin asamnya. Juga silakan bagi siapa saja yang menyukai tambahan sensasi rasa pedas. Itu subyektif. Catatan ini tentang sesuatu yang jauh dari itu.
Catatan ini adalah tentang rasa kagum! Ya, kagum!
Bayangkanlah, bagaimana kira-kira proses awal menu yang nikmat ini tercipta. Sangat mungkin berawal dari adanya bahan utama berupa ikan asin telang, yang terbut dari ikan tenggiri, kemudian ditambah dengan bahan lainnya untuk kemudian diolah dan menjadi menu yang pada akhirnya dinyatakan selesai dengan sempurna oleh si pembuat. Entah berapa kali proses trial and error yang pernah dijalani.
Proses yang pernah dibayangkan adalah sebagai berikut:
Pada suatu hari, terdapat seseorang yang ketika ingin makan namun sebelumnya perlu memasak. Bahan utamanya yang tersedia adalah ikan asin telang itu. Ia sudah merasa bosan dengan telang yang sekadar digoreng biasa, lalu ia memutuskan untuk mencoba menambahkan sesuatu. Mungkin pada kesempatan pertama ia tidak merasa puas dengan hasilnya, lalu mencoba dengan menambahkan bahan lain, dengan beragam variasi pengolahan. Sampai pada akhirnya, dan setelah beberapa kali, ia berkata: Ya! Ini pas!
Pada akhirnya, terlepas dari bagaimana sejarah sebenarnya tentang proses terciptanya menu masak asam telang, terpenting adalah orang lain kemudian juga bisa merasakan, menikmati, dan bahagia karenanya. Itu sesuatu yang mengagumkan. Mungkin akan menjadi catatan amal jariyah yang tak terkira bagi sang inovator. Aamiin.
Sebagaimana banyak hal lain yang ada dan bisa dinikmati saat ini, yang merupakan hasil dari kreasi orang-orang terdahulu. Kita saat ini tinggal menikmati, kalau pun mau, melakukan modifikasi. Lantas, apa yang dapat kita lakukan saat ini, sehingga dapat dinikmati oleh generasi kemudian? Bisa jadi sesuatu yang sederhana saja, tanpa harus berupa sesuatu yang muluk, canggih, atau rumit.
Percayalah, masih ada dan banyak hal yang dapat kita lakukan. Selamat mencoba.



Tinggalkan sebuah Komentar