Roti Bakar Bandung yang Masih Eksis

Roti Bakar Bandung yang Masih Eksis

Jika menyusuri jalan di Kota Banjarbaru atau mungkin di tempat masing-masing, pernah melihat penjual Roti Bakar Bandung? Baik yang menggunakan gerobak atau tidak. Biasanya presentasinya adalah terlihatnya beberapa bungkusan roti, yang berbentuk persegi panjang, dan bergerigi yang juga berbentuk persegi. Roti itu diisi dengan beberapa jenis selai.

Bentuknya itulah yang membedakan dari roti-roti bakar lainnya. Setidaknya yang pernah diketahui. Sejak pertama melihat dan mencoba sampai dengan saat ini, bentuknya tetap sama. Jika soal pengolahannya, sebenarnya lebih kurang saja. Sama saja dengan bagaimana sayanya dulu waktu masih rajin bakar roti sendiri di rumah. Mungkin isinya yang kini berkembang, lebih banyak variasi yang bisa ditambahkan.

Hanya memang, selera pribadi saja yang membuat masih bertahan dengan pilihan yang sama. Yakni hanya suka diisi dengan cokelat dan nenas. Variasi sedikit, selai nenas diganti dengan selai stroberi. Sudah begitu saja. Walau sejak dulu sudah ada pilihan lain, tapi ya tetap begitu saja request yang disampaikan kepada penjualnya.

Kalau tak salah ingat, roti bakar Bandung ini masuk ke Banjarbaru pada pertengahan kedua dekade 90-an. Ingat pernah bertanya pada salah seorang penjualnya, dari mana mendapatkan rotinya. Ia menjawab bahwa dulu rotinya dikirim dari Bandung, tapi kemudian sudah ada yang bikin di Banjarbaru.

Pertama kali melihat dan mencoba Roti Bakar Bandung ini adalah dulu, medio 90-an saat masih tinggal di Bandung. Belinya di Pasar Simpang Dago. Harganya waktu itu Rp1.500,- alias seribu lima ratus rupiah untuk setiap satuannya.

Jadi, kalau malam-malam sedang pingin, cukup jalan kaki ke Pasar Simpang Dago. Itu dari kediaman di Cisitu Lama. Kalau naik angkot, mesti jurusan Cisitu-Tegalega. Tapi tidak lewat Pasar Simpang, mesti turun di ujung jalan Sumur Bandung, lalu jalan kaki sedikit. Bayarnya sekitar Rp50,- atau mungkin Rp100,-. Sudah lupa lagi, tapi kisaran itu.

Tadi malam, tiba-tiba saja ingin beli lagi. Ingin makan itu lagi. Mungkin romantisme. Jadilah keluar rumah sebentar untuk mencari penjualnya. Sekalipun disuguhi daftar pilihan menu variasi isian, tetap saja kembali ke selera asal. Konsisten. Ternyata harganya sekarang Rp15.000,- atau menjadi sepuluh kali lipat dahulu. Ada juga pilihan menu yang harganya Rp20.000,-. Tentu harga ini disesuaikan dengan keadaan zaman.

Ketika pesanan sudah jadi dan dibawa pulang, lalu menikmatinya, ternyata bukan soal rasa roti yang muncul. Ada hal lain yang melintas. Hati pun berkata, “Nantilah, jika keadaaan sudah berubah membaik, tak ada lagi pandemi seperti ini, mau ke Bandung lagi. Membawa kenangan”. Ternyata roti bakar Bandung masih eksis. Demikian pula kenangan. Perihal Bandung.

Salam,-

Mhd Wahyu NZ © mwahyunz.id

Tinggalkan Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan tutup Banjarbaru dengan besi dan beton. Kita masih perlu tanah dan pepohonan!
Informasi jual beli tanah rumah Kalimantan Selatan
Gulir ke Atas