Jika mengikuti dunia dalam berita, tentu sudah tahu bahwa apa yang sekarang paling ramai adalah perang yang dikobarkan oleh Donald Trump yang Presiden Amerika dari Partai Republik itu. Tentu juga sudah tahu, bahwa Trump yang mengaku jago negosiasi itu tengah pusing menghadapi perlawanan yang kuat dari Xi Jinping, Presiden Republik Rakyat Tiongkok.
Tidak hanya itu, Trump yang benci dipanggil Donald itu juga menghadapi perlawanan dari beberapa negara lain, Kanada & Meksiko yang notabene adalah tetangga sendiri, serta negara² lain. Bahkan ia pun menghadapi perlawanan dari dalam negeri. Warga AS sendiri sudah cukup lama menjadi bahan olokan orang luar AS. Hanya yang termakan propaganda Hollywood saja yang masih mengagungkan AS.
Bahkan, salah seorang komedian pernah mengatakan bahwa AS cukup bodoh untuk mengajak China adu berhitung. Meskipun sedang mengomentari perang tarif, namun ia juga sambil mengejek kemampuan matematika warga AS, khususnya pendukung Trump yang dikenal dengan sebutan orang² MAGA. Terlebih lagi tim matematika AS yang pernah juara ternyata seluruh anggotanya adalah warga keturunan asia, khususnya China.
Indonesia? Juga sudah diketahui, tidak mengambil jalan perlawanan sebagaimana China. Lebih memilih negosiasi. Entah bagaimana hasil akhirnya. Sementara warga Kota Banjarbaru, yang merupakan bagian dari Indonesia, sepertinya sangat tidak banyak yang mengikuti perang tarif itu. Mungkin karena sedang ada perang tersendiri yang terjadi di Kota Banjarbaru. Namanya PSU.
PSU, tentu saja bukan akronim dari Perang Sarat Uang, melainkan Pemungutan Suara Ulang. Yakni untuk mengulang pelaksanaan Pilkada 27 November 2024 lalu, karena KPU Kota Banjarbaru tidak menyediakan kolom kosong sebagai pilihan yang sah bagi Pemilih. Orang Banjarbaru harusnya juga tahu, bahwa PSU dilaksanakan berdasarkan perintah dari Mahkamah Konstitusi.
PSU juga sudah dilaksanakan pada Sabtu, 19 April 2025 lalu. Rekapitulasi tingkat Kota Banjarbaru juga sudah dilaksanakan oleh KPU Provinsi Kalimantan Selatan yang mengambil alih pelaksanaan PSU di Banjarbaru. Hanya saja pasangan calon terpilih belum bisa ditetapkan. Karena ada permohonan sengketa yang diajukan kepada MK.
Berbeda dengan pelaksanaan Pilkada pada November 2024 lalu, yang mana masalah utama dalam sengketa adalah tidak disediakannya kolom kosong dalam surat suara, kali ini adalah politik uang. Sebuah masalah yang sebenarnya klasik, tapi selalu muncul saat pelaksanaan Pemilu atau Pilkada. Pengajuan permohonan kali ini dilakukan oleh 2 (dua) pihak, yakni a.n. Udiansyah dan Lembaga Pengawasan Reformasi Indonesia (LPRI) Kalsel.
Ternyata, baik perang tarif yang dikobarkan AS maupun PSU di Kota Banjarbaru, sama-sama berkutat pada masalah uang. Sehingga bisa saja disimpulkan oleh sebagian orang, bahwa uang memang bisa bikin masalah dimana-mana. Tapi bagi sebagian lainnya, uang bisa jadi alat yang paten untuk menyelesaikan masalah.
Untuk persoalan PSU Kota Banjarbaru, sudah terdapat dua kemungkinan akhir yang jelas. Tergantung pada putusan MK. Berdasar keputusan itulah akan dapat diketahui apakah Lisa-Wartono akan dapat ditetapkan sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banjarbaru, atau tidak. Itu saja kemungkinannya. Sementara untuk perang tarif, sepertinya akan masih perlu waktu. Masih banyak hal yang bisa terjadi.
Untuk itu, jadi teringat pada medio 1997 lalu. Ketika Indonesia mulai mengalami krisis moneter. Krismon orang bilang. Banyak yang berkata, melihat dolar saja tidak pernah, jadi tidak akan ada apa-apa. Kemudian rupiah terkulai, harga-harga melambung, dan banyak lagi akibat lainnya. Barulah kemudian tersadar, bahwa tidak perlu melihat dolar untuk terkena dampaknya.
Demikianlah peristiwa-peristiwa politik dan ekonomi, yang mungkin jauh dan tidak melibatkan diri seseorang secara langsung, pada akhirnya memiliki dampak dan kemampuan untuk mempengaruhi seseorang itu. Entah dengan cara atau akibat yang baik, maupun buruk. Abai bukan sebuah pilihan yang baik.
رَبَّنَا ٱفْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِٱلْحَقِّ وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْفَـٰتِحِينَ
“Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil). Engkaulah Pemberi keputusan terbaik.” (QS. 7 : 89)



Tinggalkan sebuah Komentar