Ilustrasi dibuat menggunakan AI.

Mereka Tak Pernah Terlihat Lagi

Tadi malam membaca kembali catatan lama. Sebuah catatan dari 16 tahun lalu, tentang seorang lelaki yang kembali datang setelah sekian lama tak terlihat. Waktu kemudian mencatat, bahwa itu adalah kali terakhir melihatnya. Setelah itu tak pernah berjumpa. Setidaknya, begitulah sepanjang bisa mengingat.

Catatan itu membuat teringat seorang lelaki lainnya. Ia kerap terlihat berdiri mematung atau jongkok di tepi jalan Panglima Batur, di sudut pertigaan jalan Pangeran Suriansyah Banjarbaru. Berganti-ganti, kadang di sudut kanan, lain waktu sudut kiri. Sesekali bergeser, namun tak pernah terlalu jauh.

Berkali-kali mengamati, posisi tubuhnya nyaris tak pernah berubah. Jika di pagi hari ia terlihat berdiri, maka sehingga siang atau sore ia akan tetap terlihat berdiri, di tempat yang sama. Entah bagaimana di siang harinya. Hal seperti itu terlihat berulang kali.

Ia memang seorang lelaki dengan gangguan jiwa. Entah apa yang menyebabkannya. Ia pun tak pernah terlihat lagi. Tidak ingat mulai kapan ia menghilang. Namun jika dilihat kisaran waktu, agak bersamaan dengan kesehatan almarhum Abah yang mulai menurun drastis, dan tak mampu beraktivitas lagi.

Apakah tidak terlihatnya itu ada hubungannya dengan Abah? Wallaahua’lam.
Kemudian memang baru mengetahui, bahwa ada sedikit hubungan yang dibangun oleh Abah dengan lelaki di pinggir jalan itu.

Ketika Abah masih mampu beraktivitas, beliau memiliki kebiasaan atau hobi mengayuh sepeda ontelnya. Sepeda klasik kesayangan beliau yang juga dibawa pindah ke Malang, dan kemudian dibawa pindah kembali ke Banjarbaru. Pagi hari, beliau bersepeda dan kerap kali salah satu tujuannya ada ke pasar.

Salah satu barang yang beliau bawa saat ke pasar itu adalah sendok. Ya, sendok!

Dulu pun tidak mengetahui apa alasan beliau membawa sendok. Aku pun kerap kali di dalam tas membawa sepasang sendok garpu. Alasannya adalah persiapan jika suatu saat diperlukan. Bisa menggunakan milik sendiri, yang tak pernah di pakai oleh orang lain. Kemudian tahu, ternyata Abah memiliki alasan yang berbeda.

Saat bersepeda pagi, ternyata Abah kerap membeli nasi bungkus. Kemudian dalam perjalanan pulang, beliau menghampiri lelaki yang sendiri di pinggir jalan itu. Ternyata Abah menyuapinya makan, dengan tangan Abah sendiri. Sambil beliau ajak berbicara.

Aku terdiam begitu mendengar cerita tersebut. Hening dan mengukur diri. Ternyata Abah sampai begitu rupa. Sesuatu yang mungkin tidak akan pernah mampu kucapai. Mereka memang tidak pernah terlihat lagi, namun terdapat sesuatu yang lain kemudian menyeruak dan terlihat. Dan itu indah.

خصوصا إلئ روح والدي

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ

Salam.

Mhd Wahyu NZ

Ikuti » Kanal Telegram

ANIQS - Pakaian Muslim Pria
ANIQS - Pakaian Muslim Pria

Tinggalkan sebuah Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir Ke Atas