Patin Bakar menjadi salah satu menu pilihan alternatif untuk Idul Adha kali ini. © mwahyunz.id

Menu Alternatif Idul Adha 1446 H

Momen Idul Adha pada dasarnya adalah membahagiakan. Sebuah momen yang tidak hanya dirayakan secara ritual, namun juga memiliki aspek lain yang mengiringinya. Khususnya terkait dengan menu makanan. Lihat saja sebagian kiriman di internet. Ada perempuan yang seolah menangis karena kupon kurban miliknya hancur ikut tercuci bersama pakaian. Ada lelaki yang katanya sedang latihan bakar sate, dan lain-lain.

Itu semua karena Idul Adha identik dengan berbagi daging hasil kurban. Ada mereka yang berkurban, umumnya sapi atau kambing jika di Indonesia, dan lebih banyak mereka yang menerima daging kurban untuk dinikmati. Semua senang. Termasuk di rumah ini. Hanya saja tidak semua penghuni rumah ini bisa menikmati daging sapi atau kambing. Ada satu orang yang memiliki kebiasaan berbeda sejak ±1987 Masehi.

Oleh sebab itu, sejak dulu lagi kami selalu memiliki pilihan menu alternatif untuk mendampingi menu olahan daging sapi atau kambing pada setiap Idul Adha. Biasanya, menu alternatif tersebut tidak jauh-jauh dari olahan telur, ayam, atau ikan asin. Jika setiap orang lainnya sedang menikmati rawon, maka akan ada satu orang yang menikmati kuah rawon pakai telur rebus. Itu salah satu contohnya.

Idul Adha 1446 H kali ini agak berbeda untuk urusan menu alternatif. Sebetulnya bukan hal baru dalam konteks menunya, melainkan baru dalam konteks momennya. Patin Bakar, sebuah pilihan lauk umum saja, yang hampir selalu menjadi pilihan jika makan di tempat makan yang menyediakan bakaran. Khususnya untuk ikan air tawar.

Menjadi baru dan berbeda, ketika patin bakar dijadikan menu alternatif saat Idul Adha kali ini. Menjadi semakin istimewa ketika itu dibakar sendiri menggunakan panggangan darurat, yakni menggunakan bekas wajan untuk meletakkan arang. Bahwa kemudian badan beraroma asap, itu sekadar konsekuensi logis dan tak terhindarkan.

Menjadi semakin istimewa, karena ini adalah untuk kali pertama membuat atau memanggang Patin. Jauh lebih sering dan terbiasa bikin bakaran Kerapu atau Kakap yang ikan laut itu. Karena pertama kalinya untuk urusan patin bakar, hasilnya sungguh tidak layak ditampilkan. Sebagaimana diketahui, jika sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.

Hancur? Iya, hancur. Kok bisa? Ya bisa, karena tidak ahlinya. Pendek kata, itulah hasilnya jika ditinjau dari sisi presentasi akhirnya. Foto di atas masih bagus, terjadi di tengah proses, sehingga masih aman. Tapi paling tidak masih bisa dinikmati, baik secara terpaksa mau pun sukarela. Lebih penting lagi, sudah dilakukan evaluasi mengapa bisa terjadi ‘kehancuran’ tersebut. Insya Allah, lain kali akan lebih baik.

Paling tidak, untuk Idul Adha 1446 H kali ini, sudah ada perubahan.

Salam.

Mhd Wahyu NZ

Ikuti » Kanal Telegram

ANIQS - Pakaian Muslim Pria
ANIQS - Pakaian Muslim Pria
  1. Avatar Rd
    1. Avatar Mhd Wahyu NZ

Tinggalkan Balasan ke Rd Batalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir Ke Atas