“Bundo mau dengar kelanjutan cerita gadis donor darah itu. Penting :P”, demikian pesan yang disampaikan oleh Bundo NakjaDimande yang saya sering kepleset membacanya menjadi Bundo TakJadiMandi. Bagaimana ceritanya, blog hasil remake yg baru dipublikasi pada 25 April 2011 ini bisa tau Bundo yang katanya berhenti ngeblog pada 13 Januari 2011 itu? Oh… ini soal lama, kawan.
Cuma ya keterlaluan saja rasanya, Bundo ingin tau kelanjutan kegagalan saya itu. Itu aib, dikalahkan oleh persaingan yang tidak fair! Tapi setidaknya saya telah jujur. Sebagaimana motto yang digaungkan oleh Liga Primer Indonesia (LPI) itu, bahwa kejujuran itu berawal dari lapangan hijau.
Namun demikian, demi Cisitu Lama. Akan saya berikan jawaban atas permintaan Bundo NakjaDimande tersebut….
Setelah menyelesaikan donor, saya, Manusiasuper, dan 2 (dua) orang kawan lagi langsung santap sore, tambah darah. Itu tempatnya ada di salah satu mall yang ada di Banjarmasin, yang jika ditempuh dengan kecepatan stabil ±50-60km/jam, akan berjarak ±50 menit dari rumah saya di Banjarbaru.
Di sanalah saya melihat itu bak air, tempat ikan-ikan kecil berenang kian kemari. Katanya bisa buat terapi macam-macam. Caranya, klien harus mencelupkan kaki sebatas betis ke itu bak air, untuk kemudian membiarkan ikan-ikan kecil itu berpesta pora mengarahkan mulutnya ke betis klien.
Membayangkan mulut ratusan ikan² kecil itu membuat saya geli. Sebab kaki saya bukan kaki meja, ia ditumbuhi rambut. Saya khawatir ikan² itu nanti akan tersedak atau keselek rambut di kaki saya. Kasihan mereka, bukan? Kalau mereka tersedak, lantas terminum air secara tiba²? Oh kawan… tentu iba saya jadinya. Sesungguhnyalah saya lelaki yang penuh perasaan.
Namun, atas nama rasa penasaran dan ingin tau. Bertanyalah saya kepada karyawan yang jaga. Tanpa harus membuktikan, sudahlah jelas kalau ia seorang perempuan.
“Maaf Mbak… ini sekali celup berapa ya?”, ini saya yg tanya.
“Dua puluh lima ribu, Pak…”, itu dia perempuan itu yang jawab.
“Mmm… sekali celup memang boleh sampai berapa lama, mbak?”.
…blank beberapa detik ia, tapi akhirnya perempuan itu menjawab juga sambil memandang saya dengan tatapan kosong nan entah apa maknanya, “Sepuasnya, Pak…”.
Demi mendengar itu semua, Manusiasuper terduduk, jongkok, ia tertawa sambil memegang perutnya. Tentu bukan karena menahan mencret. Sementara itu, demi harga diri, saya memandangnya, juga menahan tawa…
“Absurd, dialog absurd…” demikian judul yang diberikan Manusiasuper atas kejadian itu, yang artinya bisa juga ditemukan di Wikipedia.
***
Nah, Bundo… itulah jawaban saya atas permintaan Bundo. Tapi bukan soal gadis donor darah itu, karena sudah menjadi sejarah sial saya dan saia saat ini lagi tidak mau menyialkan diri. hahaha… cuma saya ceritakan kelanjutan peristiwa setelahnya, sebab hidup terkadang memang absurd, dan tugas saya yang terlanjur dihidupkan ini hanyalah menikmatinya, walau mungkin kadang juga dengan cara yang absurd. Setidaknya, saya hanya berusaha, untuk selalu bisa ngawur dengan ikhlas.




Tinggalkan sebuah Komentar