Dalam keadaan tertentu, ajang donor darah juga menjadi arena persaingan.

Donor Darah & Persaingan Tidak Sehat

Sama sekali tidak mengatakan bahwa donor darah itu tidak sehat. Bukan itu. Ini soal contoh persaingan yang tidak sehat dan menyebalkan. Kebetulan saja momennya bertepatan dengan donor darah.

Posisi saya sudah bagus, pojok, mungkin teringat prinsip waktu sekolah dulu, bahwa posisi menentukan prestasi, atau dalam istilah saya saat ini, posisi menentukan pandangan. Posisi velbed sebelah saya? Oh kawan, dia adalah seorang perempuan muda karyawati sebuah perusahaan, nampak terlihat dari seragamnya. Percayalah, isteri saya harus bersyukur bahwa saya masihlah seorang lelaki normal.

Petaka dimulai saat petugas yang ditunjuk untuk melayani kami ternyata adalah seorang perawat muda, dan lelaki! Sudah jelas bukan pilihan pandangan saya. Ingat! Saya lelaki normal. Padahal yang sebelumnya bertugas di posisi situ adalah seorang perempuan.
😀

Padahal lagi, kepada si Al, seorang lelaki muda yang berprofesi sebagai penyiar radio, saya berkata, “Al… sini, tolong saya”.

“Ada apa, Bang?”, tanya Al menyahut panggilan saya. “Tolong kamu ambilkan foto saya, buat dokumentasi pribadi”, jawab saya pada Al. Tapi hanya dengan satu kode rahasia, yang tidak akan saya sebutkan bahwa kode itu adalah melalui lirikan mata, si Al faham, bahwa gadis yang ada di velbed sebelah juga harus masuk. Ahha…. si Al memang cerdas.

Namun saya juga maklum, yang namanya lelaki pastilah memilih perempuan. Itulah yang ia lakukan, macam²lah yang dibicarakannya, sampai akhirnya ia minta nomor telpon si perempuan dan memberikan nomor telponnya tanpa diminta! hei… velbed saya persis di samping mereka, jadinya saya ikut dengar.

Pada suatu kesempatan, tiba² saja si perawat bertanya kepada saya, pertanyaan yang tidak saya duga², “mas… sudah nikah atau berkeluarga?”, begitu dia tanya saya.

Apppaaaaa?!? Setelah minta nomor telpon perempuan itu, tanya saya sudah nikah? Dalam situasi, kondisi dan posisi semacam itu, saya jadi mencium adanya rivalitas tingkat tinggi yang sudah mulai dikembangkan olehnya.

hmmm… pastilah karena dia tau, karena pada banyak kesempatan perempuan itu melirik saya. Tapi, pada kondisi macam itulah saya selalu teringat ucapan seorang sahabat, begini katanya:

Seorang lelaki yang tidak mengaku kalau ia sudah menikah, atau mengatakan ia masih bujangan padahal tidak, maka apa bedanya dengan ia telah menjatuhkan talak pada isterinya…

Jadilah saya katakan bahwa saya sudah menikah/berkeluarga, dan jawaban itu disambut sang perawat dengan senyum yang menyiratkan kemenangan! Benar kiranya dugaan saya. Sialan 🙁

Catatan:
Wajah di foto sengaja disamarkan

Salam,

Mhd Wahyu NZ © mwahyunz.id

26 komentar pada “Donor Darah & Persaingan Tidak Sehat”

  1. tidak disamarkan pun wajahnya tidak apa2 sy rasa, bukan blogger ini…. 🙄

    jangan ah.. kasian…
    kasian sayanya, nanti inget terus sama itu kegagalan. haha…

  2. sungguh perawat yang tak berperasaan 😈

    dan velbed, hooo baru tau ejaannya begitu, saya pikir dulu field-bed
    *yiha*

    yah.. beda² tipis lah,antara vel dan field

    *hmm*

  3. mungkin harus bisa dibedakan antara berbohong dengan tidak berterus terang. sebuah trik ngeles.
    ketika ditanya "mas… sudah nikah atau berkeluarga?"
    maka bisa dijawab begini " menurut mas bagaimana?"

    apapun jawabannya, yang pastikan tidak harus setuju atau tidak setuju. Terserah persepsi mas perawat itu sajalah. Tapi mas perawatnya itu pinter berbahasa kok. Kata "atau" itu kan seharusnya berkebalikan, tapi ini "nikah" dan "berkeluarga" kan artinya sama, artinya lagi jawabannya harus "iya!"
    *halah*

    hahaha… saya sering begitu, kalau isteri nanya, "bilang ga sama orang kalau sudah nikah?" sayanya jawab, "lho… ngapain bilang² kalau ga ditanya". haha… tapi kalau sudah ditanya, ya harus jujur, kan itu konsekuensi sudah berani nikah. *joged*

  4. Menjawab Permintaan Bundo NakjaDimande | Mhd Wahyu NZ | Banjarbaru

    […] Permintaan Bundo NakjaDimandeDiterbitkan 9 Mei 2011Terapi Ikan“Bundo mau dengar kelanjutan cerita gadis donor darah itu. Penting ”, demikian pesan yang disampaikan oleh Bundo NakjaDimande yang saya sering […]

  5. Dibalik tertawanya sang istri, mungkin saja masih menyimpan kecurigaan, bisa-bisa malah menaruh "dendam" dalam perlakuan yang sama.. :mrgreen:

  6. wakakakakakakaa, 5 meter di rumah udah menikah, keluar lebih dari 5 meter masih perjaka 😀
    salam kenal dari blogger newbie 😀

    l
    l
    v
    With Smile
    MisterXWebz

  7. # juga terkait UU Hak Cipta, mas. karena tidak boleh mempublikasikan foto orang lain tanpa ijin yg bersangkutan. lah… saya kan belum minta ijin. whuihihihi…. 😳

  8. benar benar tidak fair… saya kira tadinya si perempuan yang memberikan nomernya tanpa diminta… tapi poto diatas lebih tidak fair lagi, karena saya lelaki normal,maka saya lebih prefer kalo yang di muat adalah poto perempuan muda itu di close up dan bukan di buramkan… 👿

Tinggalkan Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas