Kemarin (12/06) siang mendadak saja ingin mengunjungi kembali rumah yang dihuni saat masa kecil dulu. Tinggal di rumah itu mungkin sampai dengan Februari 1984. Itu juga seingatnya. Kemungkinan lain adalah sampai dengan sekira bulan Juni. Namun masih di tahun yang sama, 1984. Rumah itu saat ini tampak sangat tidak terawat. Bahkan pada beberapa bagian sudah terlihat rusak.
Sampai saat ini masih ingat beberapa potongan kejadian di rumah itu, pun dengan lingkungan sekitar. Dulu halamannya luas, tidak ada bangunan apa pun di depan rumah. Sekarang terlihat sebuah bangunan yang sangat dekat. Sekarang terdapat beberapa buah rumah di belakang rumah itu. Dahulu, di belakang rumah hanya terdapat lahan kosong dan baru beberapa puluh meter terdapat sebuah rumah dan pohon kolang kaling.
Rumah itu dulu terasa begitu tinggi dari tanah. Setiap musim hujan, sering sekali kebanjiran, karena sungai yang tak jauh dari rumah akan meluap. Jika sudah banjir agak tinggi, maka tidak bisa jalan kaki, harus menggunakan jukung, Bahasa Banjar untuk sampan kayu kecil.
Saat banjir pula sangat menyenangkan berenang di halaman. Hanya pada suatu ketika melihat ular yang juga mungkin ikut berenang. Karena takut, akhirnya naik dan masuk ke dalam rumah. Abah kemudian keluar rumah, dan berusaha menembak ular itu dengan senapan angin. Hanya saja tidak ingat, apakah tembakan tersebut mengenai sasarannya atau tidak.
Di sebelah kiri rumah kami itu ada sebuah rumah. Sampai sekarang terkadang masih bertemu secara sengaja atau tidak sengaja beliau sekeluarga. Tapi memang lebih sering tidak sengaja. Di depan rumah tetangga itu dulu terdapat pohon pepaya. Kupanjat untuk memetik buahnya, dan kemudian dilepaskan. Harapannya adalah mama berhasil menangkap dengan baik, ternyata tidak. Pepaya itu justru jatuh ke kepala beliau.
Rumah yang kami tinggali dulu itu adalah salah satu dari dua buah rumah dinas untuk puskesmas setempat. Abah dan mama bekerja di Puskesmas tersebut, yang hanya berjarak sekitar 50 meter. Abah seorang mantri, dan mama perawat gigi. Tetangga kami adalah seorang bidan, suami beliau di pemerintahan daerah. Kami semua sekarang sama, tinggal di Kota Banjarbaru. Walau mungkin kami lebih dahulu menetap di Banjarbaru.
Terlepas dari rasa miris melihat kondisi rumah berdinding papan tersebut di saat ini, tetap terlintas kemudian beberapa potongan kejadian yang pernah dialami di rumah itu. Termasuk ketika tangan kiri melintir pada tahun 1980 atau 1981, yang akibatnya masih tersisa dan terlihat sampai saat ini.
Pun teringat beberapa hal lain, bahkan saat masih belum lagi masuk sekolah. Teringat tentang sungai, tentang warung Kai Suit, tentang pohon beringin, dan lainnya. Mungkin suatu saat akan dibuat catatan tersendiri. Melihat masa lalu bukan berarti ingin kembali. Melainkan sekadar menengok ke belakang. Lalu mensyukuri telah berada di sini, pada saat ini. Entah sampai kapan.



Tinggalkan sebuah Komentar