Ilustrasi makanan, obat, dan racun

Manusia Makanan, Obat, dan Racun

Sebenarnya ini adalah intisari khutbah Jumat dua pekan lalu. Sebuah khutbah pendek yang membekas dan kuat teringat. Khatib yang berdiri di atas mimbar menyampaikan sebuah perumpamaan manusia menurut Imam Al-Ghazali, yang terdiri dari tiga perumpamaan, yakni seperti makanan, obat, dan racun.

Salah satu khutbah Jumat yang menjadi bahan pikiran selama beberapa waktu. Termasuk golongan manakah kiranya selama ini ketika menjalani hidup yang tinggal sebentar lagi ini. Apakah menjadi makanan yang selalu dibutuhkan oleh kita manusia. Atau menjadi obat, yang dibutuhkan ketika sedang sakit dan ingin sembuh. Atau malah menjadi racun, yang tidak ada seorang pun menginginkan.

Menjadi “manusia makanan”, adalah menjadi manusia yang keberadaannya menjadi manfaat dan kebaikan, bahkan dibutuhkan. Tidak adanya akan dicari. Bahkan kehadirannya selalu diharapkan. Manusia ini mampu menjadi inisiator, dan memiliki mampu memberikan daya dorong bagi bersama. Ideal, namun memang peran yang berat.

Menjadi “manusia obat” adalah menjadi manusia yang mampu memberikan solusi ketika terdapat permasalahan. Kehadirannya mungkin dirindukan dan diperlukan ketika terjadi kebuntuan. Ia akan dicari oleh teman yang memerlukan pendapat atau nasihat. Ia mungkin menjadi penghibur hati yang sedang risau.

Menjadi “manusia racun” adalah menjadi manusia yang paling celaka. Mungkin orang-orangan di sawah lebih memberikan manfaat daripada manusia jenis ini. Manusia jenis ini, keberadaannya justru membuat masalah dan ketiadaannya sangat diharapkan. Kurang celaka apalagi jika sudah begitu.

Setelah lama merenung, akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan. Lebih baik untuk tidak mengelompokkan diri telah menjadi manusia jenis apa. Takut hati menjadi rusak. Bisa karena terlalu optimis, bisa pula terlalu pesimis. Lebih aman untuk menjadikan perumpamaan itu sebagai panduan dan tujuan.

Dengan begitu, mungkin dapat selaras dengan apa yang selama ini berusaha dipegang dan dijalani. Yakni, “Jika belum atau tidak mampu memberi manfaat dan kebaikan, setidaknya jangan menyusahkan”. Selain itu, ada peribahasa dalam Bahasa Banjar tentang sifat dan perilaku yang harus dihindari, yakni: Ditinggal manawaki, dibawa malinggang ka jukung.

Salam.

Mhd Wahyu NZ

Ikuti » Kanal Telegram

ANIQS - Pakaian Muslim Pria
ANIQS - Pakaian Muslim Pria

Tinggalkan sebuah Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir Ke Atas