Barang baru masih bagus, itu biasa. Barang lama masih bagus, itu yang luar biasa. Begitu kira-kira cara memuji diri sendiri yang bisa dilakukan bagi yang suka memelihara barang tua dan dalam kondisi bagus. Sebab sebagai manusia mandiri, kita bisa memuji diri sendiri, tanpa harus menunggu dan berharap untuk dipuji oleh orang lain.
Salah satu barang yang cukup tua dan dipelihara hingga saat ini adalah sebuah motor, yakni Honda Supra 100 Tahun 2002. Berarti tahun ini sudah berusia 23 tahun. Untuk ukuran Kalimantan Selatan yang masyarakatnya gemar berganti ke motor baru, ini tentu sudah sangat ketinggalan. Tentu ada pengecualian, misalnya si Warm, yang begitu cinta dengan motornya yang jauh lebih tua. Motorku kualat jika kurang adab terhadap motornya.
Tantangan memelihara motor tua memang ada pada ketersediaan suku cadang atau sparepart. Sudah cukup susah mencari suku cadang orisinal di sini. Belanja daring adalah salah satu cara yang biasanya ditempuh. Kecuali berkenan menggunakan suku cadang non-orisinal, mungkin lebih mudah mendapatkannya.
Karena cukup uzur, maka sudah wajar jika suatu saat akan muncul masalah. Seperti malam itu. Ketika sedang berkendara, mendadak saja motor itu mogok. Mana jalan yang dipilih memasuki kompleks perumahan yang cukup sepi, untuk menghindari jalur utama yang lebih ramai. Saat dicoba menghidupkan motor dengan menggunakan starter maupun kick starter, gagal.
Motor tetap tidak mau hidup. Tidak ada pilihan lain, harus dituntun. Tujuan diputuskan untuk ke rumah seorang kawan yang memang membuka usaha bengkel motor. Jaraknya mungkin ±1.5 km. Ketika harus ditempuh dengan sambil mendorong motor mogok, tentu terasa bebannya, dan lumayan keringatnya.
Sepanjang perjalanan mendorong motor itu, lumayan juga beberapa orang yang mampir dan bertanya apa yang terjadi. Rerata mengira sedang kehabisan BBM dan menawarkan diri untuk bantu mendorong. Namun semua kutolak dengan sambil mengucapkan terima kasih. Ingin mendorong sendiri saja.
Satu yang paling epik adalah ketika bertemu dua orang di sebuah kompleks perumahan. Setelah bertanya dan mereka mendapatkan jawaban tentang yang terjadi, salah seorang berkata, “Semangat, Pak! Anggap saja olah raga.” Tida ada pilihan lain, aku tertawa sambil kemudian menjawab, “Siap!”
Namun, hal yang muncul dalam pikiran bukannya tentang lelah dan keringat. Melainkan khawatir dikira maling motor. Sebab saat itu sedang tidak membawa dompet, di mana KTP, SIM, dan STNK semua berada di dalamnya. Sudah lama malas bawa dompet, dan selalu ditaruh dalam dasbor mobil.
Mendadak terbayang bagaimana kalau sedang melewati perumahan dan ada orang-orang yang lagi nongkrong, lantas mereka tidak percaya dan minta dibuktikan bahwa itu adalah motor sendiri. Walau sudah dipikirkan solusinya, ya kalau tidak percaya antarkan saja pulang untuk kemudian ambil surat-surat motornya.
Meski begitu, ya tetap ada sedikit khawatir. Bukan soal rumit atau tidaknya menjelaskan atau membuktikan. Tapi lebih pada soal malas ribetnya. Lalu terpikir pun hal lain. Jika yang jelas milik sendiri tapi tanpa bukti bisa jadi masalah, bagaimana dengan atas sesuatu yang bukan milik sendiri, tapi lantas diakui sebagai milik sendiri.
Apalagi bisa tenang dan senang melakukannya. Mungkin itu salah satu bentuk keajaiban dunia. Mungkin ada sesuatu yang salah. Bisa jadi pada akalnya. lebih gawat jika yang salah itu pada kalbunya.
Perihal motor yang mogok, kemudian diketahui masalah pada pengapian. Diputuskan untuk mengganti spull, CDI, dan coil sekaligus, yang memang tidak pernah diganti sebelumnya. Lagi-lagi bukan perkara mudah mencari barang orisinal di toko suku cadang di sini, bahkan agen resmi atau dealer, harus berburu secara daring.



Tinggalkan sebuah Komentar