Apakah dapat dibayangkan bila sekolah tak memiliki kantin? Mungkin saja akan muncul sejumlah persoalan. Minimal, jika tak ada kantin, saat jam istirahat para siswa akan keleleran ke luar sekolah buat jajan. Terus tak ada jaminan akan kembali ke ruang kelas saat waktu istirahat berkahir. Sekedar memperluas sayap pergaulan pada waktu yang kurang tepat.
Saat SMA dulu, di sekolah kami, SMA Negeri 2 Banjarbaru atau SMADA Banjarbaru, ada sebuah kantin. Terletak di pojok belakang sekolah. Kantin berdinding kayu, dengan meja dan kursi yang memanjang, juga berbahan kayu. Di atas meja sudah tersedia sejumlah jajanan. Juga ada menu yang secara khusus dibikin setelah dipesan.
Sebagaimana umumnya sebuah kantin, tentu saja tempat tersebut menjadi semacam pusat pergaulan. Jumlah uang saku boleh saja berbeda, tapi tujuan tetap sama: Kantin. Ngomong-ngomong, istilah kantin sendiri pertama kutahu ada saat duduk di bangku SMP. Waktu SD kenalnya cuma istilah warung.
Namun kantin saat kami duduk di bangku SMA ini berbeda, ada kekhasan tersendiri. Kantin yang dikelola oleh isteri Pak Djafar tersebut memiliki keunikan tersendiri justru pada sisi pengelolanya. Bu Djafar.
Sejak pertama mengenal kantin SMADA Banjarbaru itu, kami tahunya memanggil beliau, menyebut Bu Djafar dengan panggilan kakak. Entah sudah berapa generasi SMADA Banjarbaru sebelum kami, beliau dipanggil kakak. Bahkan kemudian yang kudengar, beberapa tahun setelah kamipun beliau tetap dipanggil dengan sebutan kakak.
Entah sampai tahun kapan kemudian beliau tetap dipanggil sebagai kakak. Dan hey… itu sudah menjadi bukti nyata bahwa berapa generasipun berlalu di SMADA Banjarbaru, beliau tetap saja muda.
*Dalam rangka menyongsong Reuni SMADA Banjarbaru, 18/10/2015



Tinggalkan Balasan ke warm Batalkan Balasan