Ada dua orang pemimpin yang selama beberapa waktu ini menarik perhatian. Keduanya pemimpin pada tingkat dan dari negara yang berbeda. Ibrahim Traoré menjadi Presiden Transisi Burkina Faso, sementara Dedi Mulyadi (KDM) menjadi Gubernur Jawa Barat, di Indonesia. Ibrahim Traoré memang terlebih dahulu menarik perhatian pribadi.
Ibrahim Traoré dan Dedi Mulyadi menjadi pemimpin dengan cara atau proses yang berbeda. Jika Ibrahim Traoré menjadi presiden dengan cara kudeta, Dedi Mulyadi menjadi gubernur sebagai hasil pilkada serentak tahun 2024. Kesamaannya, keduanya mendapatkan dukungan luas dari rakyatnya masing-masing. Jangan bingung jika hasil kudeta juga mampu memperoleh dukungan rakyat.
Selain sama-sama musllim, keduanya juga lebih sering terlihat tampil mengenakan pakaian ‘kebesaran’ masing-masing. Jika Ibrahim Traoré terlihat kerap mengenakan pakaian seragam militer dengan baret merahnya, maka Dedi Mulyadi lebih sering terlihat mengenakan baju dan celana berwarna putih. Tak lupa iket sunda yang juga putih.
Beberapa kebijakan Ibrahim Traoré yang sangat didukung oleh rakyatnya kini diikuti oleh beberapa pemimpin Afrika lainnya. Sementara sejumlah kebijakan Dedi Mulyadi juga ada yang diadopsi dan diikuti oleh Gubernur lain di Indonesia. Tapi maaf, khusus pembebasan denda pajak kendaraan bermotor, Kalimantan Selatan jauh lebih terdahulu selama belasan tahun jika dibandingkan dengan kebijakan KDM 😉
Adalah hal yang wajar jika kebijakan memiliki pro dan kontra, pendukung dan penentang. Traoré ditentang oleh khususnya Perancis dan beberapa negara barat. Bahkan telah terungkap plot atau rencana pembunuhan terhadapnya. Sementara KDM mendapat ‘perlawanan politik’ dari beberapa pihak. Termasuk tindakan walkout yang dilakukan oleh sebagian legislator.
Para pendukung kebijakan KDM banyak terlihat di media sosial melalui komentar atau kiriman. Termasuk yang nyinyir kepada KPAI dan Komnas HAM khusus untuk urusan penanganan anak-anak khusus. Sementara pendukung Traoré sudah sampai pada dukungan fisik. Sebagian warganya rela bergiliran jaga malam di sekitar kediamannya. Khawatir Traoré kembali menjadi target pembunuhan.
Traoré, sepertinya ingin mewujudkan apa yang pernah diimpikan oleh Thomas Sankara, lengkapnya Thomas Isidore Noël Sankara. Seorang perwira militer yang kemudian menjadi pemimpin Burkina Faso, juga melewati proses kudeta. Bahkan Sankara lah yang merubah nama negara itu menjadi Burkina Faso, yang berarti Tanah Orang-Orang yang Jujur. Sankara tewas dibunuh.
KDM, tampaknya sangat memegang nilai-nilai budaya Sunda. Kebijaksanaan lokal menjadi salah satu dasar pemikiran dan tindakannya. Terlepas dari mengikuti siapa atau apakah ada impian seseorang yang ingin diwujudkannya, itu tidak penting. KDM jelas sudah meninggalkan gubernur pendahulunya, Ridwan Kamil yang menurut KDM adalah wajah kota. Sementara KDM mengaku dirinya adalah wajah desa.
Banyak sekali hal menarik terkait Ibrahim Traoré dan Dedi Mulyadi, termasuk pro dan kontranya. Tapi tidak mungkin dicatat seluruhnya. Silakan cari masing-masing jika memang mau tahu. Jika menemukan hal yang baik, bukanlah sebuah kelemahan atau aib jika mengikuti. Sebaliknya, jika menemukan kesalahan, bukanlah sebuah kehebatan jika mencela dan mencerca.
Bagaimana dengan Gubernur Kalimantan Selatan? Sementara tahu nama beliau adalah Muhidin. Juga sebagian rekam jejaknya. Khusus untuk Wali Kota Banjarbaru, masih harus menunggu Putusan Mahkamah Konstitusi pasca Pemungutan Suara Ulang (PSU). Selain dan selebihnya, juga masih harus menunggu.
Siapa tahu akan ada gebrakan dan/atau kebijakan yang berpihak dan mendapatkan dukungan luas dari masyarakat. Tidak hanya dari masyarakat Kota Banjarbaru dan Provinsi Kalimantan Selatan. Siapa tahu juga didukung para Burkinabé, sebutan untuk orang-orang Burkina Faso, yang berarti orang-orang yang jujur.



Tinggalkan sebuah Komentar