Menu mi kuah di Warung Mama Aseng yang kini sudah pindah ke lokasi baru. (Foto: Kartika Arrum via ulasan Google).

Dikomplain Warung Mama Aseng

Hal yang jamak terjadi adalah pelanggan yang melakukan protes kepada penyedia produk, baik barang atau jasa. Bisa jadi karena faktor produknya sendiri, atau karena faktor pelayanan, atau lainnya yang tidak terkait secara langsung. Termasuk kepada warung, resto, depot, atau apa pun namanya. Tempat jualan makanan.

Namun yang baru saja dialami sendiri adalah sebaliknya. Pelanggan yang dikomplain penjual. Sebenarnya bukan hal yang tabu, hanya jarang terjadi saja. Bahkan aku sendiri mengalami bukan kali ini saja. Sudah pernah pula dikomplain oleh penjual lainnya. Tema komplainnya juga sama. Sehingga tenang menghadapinya.

Untuk kali ini, yakni tadi sore, yang komplain adalah Warung Mama Aseng. Kerap kali orang-orang menyingkatnya menjadi Warung Aseng saja. Sepengetahuanku, Aseng adalah nama panggilan anak beliau. Bukan nama Pak Suami yang bertugas menjadi juru masak utama. Ibu urusan pelayanan kepada pelanggan.

Warung Mama Aseng itu menyediakan menu makanan berupa nasi goreng, mi goreng, mi kuah, nasi mawut, dan capcai. Menu kesukaanku adalah mi goreng. Sementara Mama lebih cocok dan menyukai mi kuah. Selera makanan memang subjektif. Sehingga tidak ada potensi kualat kepada orang tua karena beda selera.

Soal porsi bagiku sudah lebih dari cukup. Ukuran porsi tergantung kapasitas perut. Kalau untuk Mama, seporsi mi kuah di Warung Mama Aseng memang melebihi dari kebiasaan porsi makan beliau. Bagaimana dengan harganya? Harga itu sekurangnya perpaduan antara kualitas rasa dan/atau ukuran porsi.

Harga bisa menjadi mahal atau murah jika memiliki faktor pembanding. Jika urusan makanan, maka setidaknya dibandingkan dengan rasa dan porsi. Nah, harga di Warung Mama Aseng ini bagiku adalah layak atau pantas. Bahkan cenderung murah jika dibandingkan dengan rasa dan ukuran porsinya.

Lantas, mengapa sampai dikomplain oleh Warung Mama Aseng?

Penyebabnya sederhana. Warung Mama Aseng itu sebelumnya beralamat di Jl. Nusantara, Kelurahan Loktabat Selatan. Sekitar 2 bulan lalu, pindah ke Jl. Angsana No. 44, Kel. Loktabat Utara. Tidak begitu jauh. Paling perlu waktu ±5 menit dari lokasi semula. Ingat, untuk urusan nama kelurahan atau kecamatan, jangan pernah berpatokan pada Google Maps!

Sebetulnya sebelum pindah, rasanya sebelum bulan Ramadhan, beliau sudah menyampaikan rencana kepindahan itu. Pun disampaikan ke mana akan pindah. Diceritakan beliau bahwa akan pindah ke lokasi baru, jalan persis di samping DIY Loktabat, Banjarbaru. Sehingga tidak kaget atau bingung jika memang pindah.

Tadi sore mampir ke Warung Mama Aseng. Beli mi goreng, mi kuah, dan nasi goreng. Orang berbeda, selera juga beda-beda. Saat itulah beliau komplain. “Sudah dua bulan pindah, kok baru sekarang kelihatan?” ucap beliau. Redaksinya memang bertanya, tapi nada beliau lebih tepat diartikan komplain 😆

Ini lebih lunak daripada pengalaman sebelumnya di warung yang berbeda. Wah, itu malah dikomplain hal yang sama dengan lebih keras. “Kemana aja? Tidak kelihatan lebih dari dua bulan. Sudah dapat langganan tempat makan yang baru ya?” begitu katanya. Walah… mati kita… 😆

Demi mendapat pertanyaan eh… komplain 😆 seperti itu, ‘kan akunya cuma bisa cengar cengir. Mau bagaimana lagi. Walau sebetulnya beberapa kali terucap niat mau ke Warung Mama Aseng, tapi selalu harus diurungkan karena beberapa sebab. Tapi setidaknya, kemarin sudah mendatangi lokasi baru. Nuansanya masih sama sebagaimana lokasi lama. Terasa tenang dan tidak berisik.

Berikut lokasi baru Warung Mama Aseng. (Bisa pula klik di sini)

Salam.

Mhd Wahyu NZ

Ikuti » Kanal Telegram

ANIQS - Pakaian Muslim Pria
ANIQS - Pakaian Muslim Pria

Tinggalkan sebuah Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir Ke Atas