Perkara selera itu sangat subjektif. Rasa-rasanya belum pernah ada kesepakatan kolektif tentang lidah siapa yang dijadikan patokan tunggal penilaian rasa.

Cukup Katakan: Aku Tidak Cocok!

Sepertinya sudah final, bahwa salah satu tempat makan favorit dan langganan ketika ingin menikmati menu ikan laut bakar di Banjarbaru ternyata sudah tutup. Terdapat kertas bertuliskan bahwa tempat tersebut dikontrakkan.

Memang masih belum bisa dipastikan, apakah tempat makan tersebut sekadar pindah lokasi, atau memang sudah berhenti beroperasi sepenuhnya. Kalau pun memang berhenti, kata ‘disayangkan’ tampaknya terlalu subjektif. Bagaimana pun juga tidak mengetahui penyebab pastinya.

Hal ini membuat teringat sejumlah ulasan tentang sejumlah tempat makan (warung, depot, resto, atau apa pun namanya), selain itu juga menu yang disediakan. Ulasan itu bisa di mana saja, bisa melalui Google Maps, pun komentar-komentar media sosial. Begitulah manusia.

Secara khusus terkait dengan ulasan negatif, kerap terbaca komentar atau ulasan yang sangat negatif, bahkan sampai taraf mencela. Sungguh, seperti itu sangat tidak kusukai, dan sangat kuhindari. Tentu saja dengan disertai pertimbangan-pertimbangan tertentu, utamanya moral.

Benar bahwa setiap orang memiliki hak untuk menyatakan pendapatnya atas sesuatu. Untuk beberapa hal, kupikir aku pun bisa keras atau mungkin kasar menurut orang lain. Namun khusus untuk hal seperti komentar/ulasan tempat makan, sangat berusaha mengontrol diri.

Teringat sebuah peristiwa belasan tahun silam. Seorang kawan menulis tentang sebuah tempat makan melalui blognya (yang kini sudah tidak aktif). Pendek kata, tulisan itu pada intinya menjelaskan betapa buruknya pelayanan di tempat makan tersebut. Sampai kemudian si pemilik tempat makan berkomentar dalam tulisan itu.

Pemilik tempat itu menyampaikan terima kasih atas saran yang diberikan. Kawanku itu merespons dengan menyatakan bahwa tulisannya bukanlah sebuah saran, melainkan sebuah kritik. Banyak komentar di tulisan tersebut. Entah berhubungan atau tidak, tak berapa lama kemudian tempat makan itu tutup. Selamanya.

Bertahun kemudian, aku dan kawan tersebut pernah terlibat dalam sebuah perbincangan. Kesimpulannya adalah, tidak akan menuliskan sesuatu yang buruk lagi tentang tempat makan, sekalipun kami sangat tidak menyukainya. Alasan saat itu sederhana, bahwa kondisi ekonomi sedang susah.

Banyak sekali pelaku usaha yang mengalami penurunan penghasilan dengan persentase besar. Termasuk para pelaku usaha makanan atau kuliner. Pendek kata, semua tengah susah berusaha dan cari makan, maka jangan dibikin tambah susah. Aku sependapat. Pada kenyataannya juga tidak pernah mencela usaha mereka-mereka.

Karenanya, selalu saja berusaha mengontrol diri ketika ditanya pendapat tentang sebuah tempat makan atau menu pada tempat makan tertentu. Sekalipun kurasa sangat tidak enak, maka aku selalu berusaha dengan cukup mengatakan bahwa “Aku tidak cocok.” Mungkin tidak cocok dengan rasanya, pelayanannya, atau lainnya.

Atau mungkin juga dengan cara lain. Ketika baru mencoba sebuah menu makanan baru, dan ternyata tidak enak. Jika kurasa tidak enak, maka sebisa mungkin aku menyampaikan dengan cara lain. Biasanya adalah, “Kayaknya tidak akan kembali ke sana untuk menu itu. Tidak cocok. Mungkin untuk mencoba menu lainnya saja.”

Lagi pula perkara selera itu sangat subjektif. Rasa-rasanya belum pernah ada kesepakatan kolektif tentang lidah siapa yang dijadikan patokan tunggal penilaian rasa makanan pun minuman. Bahwa jika ada kesamaan, itu ya sebatas kebetulan sama. Tidak lebih.

Bagaimana, cocok?

Salam.

Mhd Wahyu NZ

Ikuti » Kanal Telegram

ANIQS - Pakaian Muslim Pria
ANIQS - Pakaian Muslim Pria
  1. Avatar Warm
    1. Avatar Mhd Wahyu NZ

Tinggalkan Balasan ke Warm Batalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir Ke Atas