Tak Lagi Rayakan Ulang Tahun

Kali ini ceramah di hadapan sejumlah hadirin dan hadirat yang berbahagia, dan terdiri dari 3 orang paman, 2 orang Tante, 1 orang nini (Bahasa Banjar, Nenek), serta beberapa orang itu anak kecil yang perhatiannya kadang kemana-mana. Lokasi ceramah adalah di teras rumah salah satu tante, dekat pohon jambu klutuk.

Ceramah dadakan itu tentulah tidak dengan tema: “Melalui Perayaan Hari Ulang Tahun, Mari Kita Tingkatkan Pengamalan Nilai Luhur Pancasila dan UUD 1945 dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Menuju Masyarakat Adil, Makmur dan Bermartabat“. Tidak itu, tapi cukup soal ulang tahun saja.

“Kita ini banyak yang tidak konsisten dan tidak adil!” itulah diriku yang memiliki kalimat pembuka. “Terutama sekali kalau kita meninggal, atau orang yang kita kenal, apalagi kenal dekat, meninggal. Sedih dan bersedihlah kita”, tentu saja saya yang melanjutkan.

“Padahal selama hidup, berbahagialah sungguh dengan adanya ulang tahun. Merayakan dengan makan-makan, bahkan pesta”. Lagi-lagi aku yang bicara. Kalian tahu, itu para hadirin manggut-manggut dan mendengarkan dengan hikmat.

“Sesungguhnyalah setiap ulang tahun itu mendekati kematian, mengurangi umur. Tidak setiap orang berbahagia dengan hal ini. Hanya mereka yang diberikan keistimewaan oleh Tuhan saja yang wajar mengharapkan segera berjumpa dengan kematian”, saya memaparkan kenapa. “Bagi kita yang awam dan umum, mengharapkan kematian itu lebih menjadi tanda putus asa dan bosan hidup, tidak lebih”, tetap lanjut.

“Karenanya, bagi yang terlalu bergembira ria dengan datangnya ulang tahun, maka saksikanlah, saat kematiannya datang, tidak ada seorangpun yang boleh bersedih! Semua harus gembira! semua harus berpesta! makan enak dan sejenisnya. Sebablah tujuan telahpun dicapai”, saya hampirlah sudah sampai pada kesimpulan.

Sebelumnya entah kenapa, diri ini semacam tercerahkan, ya… tercerahkan, dan sebab itulah sudahpun berpesan:

Janganlah rayakan ulang tahunku, sebab itu tanda kau bergembira dengan datangnya kematianku dan sebab aku masihpun takut serta sangat belum siap mati. Sungguh. Kecuali engkau senang akan hal itu.

Ceramah di depan jamaah yang berbahagia senang selalu itu sore, selalu ditutup dengan kalimat andalan, “Ini hukum adalah untuk diriku sendiri. Bukan untuk orang lain”.

Bagaimana dengan orang lain? Terserah. Itu urusan orang lain.

Salam.

Mhd Wahyu NZ

Ikuti » Kanal Telegram

ANIQS - Pakaian Muslim Pria
ANIQS - Pakaian Muslim Pria

Tinggalkan sebuah Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir Ke Atas