Masih segar dalam ingatan, bagaimana dulu belajar berenang di sebuah sungai. Menggunakan bantuan kaki-kaki jembatan sebagai tempat berpegang. Mencoba mengambang dan berenang dari satu kaki jembatan ke kaki lainnya. Jika sudah mahir, tentu tidak lagi memerlukan kaki jembatan yang terbuat dari kayu ulin itu.
Juga masih teringat bagaimana saat kecil dulu bermain sampan di sebuah sungai bersama beberapa orang kawan. Jukung, demikian sampan dalam Bahasa Banjar. Jukung itu terbalik, seorang kawan terjebak di dalamnya. Tidak ada rasa takut, semua tertawa. Karena tahu, bahwa ia pasti bisa membebaskan diri.
Ketika semakin besar, juga bertambah sungai yang diketahui. Masih ingat bagaimana menempuh perjalanan berjam-jam menggunakan sebuah kapal penumpang melalui sebuah sungai besar. Sejumlah sampan dikayuh mendekati kapal. Ternyata mereka adalah penjual yang menawarkan ragam makanan dan buah-buahan.
Juga masih ingat bagaimana harus merelakan dompet yang dicopet orang pada sebuah dermaga. Akibat tertidur ketika menunggu giliran kapal motor yang akan membawa ke sebuah tempat yang juga harus melalui sebuah sungai. Hanya saja kapal ini tak bisa dikejar oleh penjual yang mengayuh sampan.
Itu semua adalah sebagian yang dialami sendiri. Belum lagi cerita-cerita yang disampaikan oleh kawan-kawan. Salah seorang kawan bercerita bagaimana ia ditinggalkan oleh kakak-kakaknya di tengah sungai dan dipaksa berenang ke tepian. Begitulah kakaknya memaksanya belajar berenang, dengan risiko yang sangat besar.
Hanya saja, itu semua adalah cerita dulu. Puluhan tahun lalu. Gambar di atas adalah gambar bagian sungai yang menjadi tempat kami bermain dahulu. Foto yang diambil kemarin, Selasa 20 Mei 2025, ± pukul 17.15 Wita. Ketika melintasi sebuah tempat yang berjarak hampir 1 jam perjalanan dari Banjarbaru.
Sungai kami dahulu sudah hilang. Mungkin begitu pula beberapa sungai lainnya, yang entah berapa banyak. Apa yang tersisa sekarang sudah tidak bisa, bahkan tidak layak disebut sebagai sungai. Penyebabnya sederhana, karena manusia yang tidak setia kepada alam. Manusia telah berkhianat kepada alam.



Tinggalkan sebuah Komentar