Sekedar mencatat apa yang pernah dialami beberapa waktu lalu. Mungkin agar menjadi pengingat jika suatu ketika harus diingatkan lagi, bahwa segala sesuatu memiliki hukum sebab-akibat. Selain itu, sebagaimana peribahasa latin mengatakan, “Verba volant scripta manent”.
—
Sabtu, 23 Januari 2021, saya harus melaksanakan kewajiban, yakni Rapat Pleno Terbuka KPU Kota Banjarbaru dalam rangka Penetapan Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Terpilih, pada Pilkada Kota Banjarbaru Tahun 2020. Acara itu berlangsung hingga siang hari. Ketika selesai, seluruh undangan mulai menikmati makan siang yang telah disediakan.
Saya merasa kepala sudah agak kurang enak. Akhirnya memilih segera keluar dari ruangan yang bertempat di Ballroom Grand Dafam Q Hotel itu. Lalu mengajak seorang kawan, Adul (Banjarbaru Dalam Lensa) untuk makan siang di luar saja, menuju salah satu tenant makanan di Q Mall Banjarbaru. Usai makan, kami berpisah. Saya pulang. Adul entah kemana melanjutkan petualangannya.
Sampai di rumah waktu itu ± pukul 13.00 Wita. Setelah beberes dan lain sebagainya, badan ini terasa begitu lelah. Akhirnya memilih merebahkan diri di kasur. Lap… langsung terlelap tak berapa lama kemudian. Begitu kemudian terbangun, saya melihat ke luar jendela, terlihat gelap.
Ternyata baru lepas sedikit dari pukul 4 subuh. Ini berarti sudah hari Ahad, 24 Januari 2021. Berarti sebelumnya tertidur tanpa sadar -bahkan untuk pipis- tadi adalah selama ±15 jam! Waktu terus berjalan, tanpa melakukan aktivitas yang berat. Saya menunggu muncul matahari.
Lepas dari pukul 6 pagi, pergilah kemudian keluar rumah. Seperti biasanya, diawali dengan menyapu halaman. Kali itu ditambah dengan mencabut rumput yang tumbuh di bahu jalan depan rumah. Sambil duduk jongkok, terus mencabut rumput liar. Itu berlangsung selama beberapa belas menit. Sampai akhirnya merasakan kesemutan di kaki kiri.
Beriringan dengan kaki terasa kesemutan, saya juga merasakan kepala menjadi sedikit pusing. Akhirnya saat itu juga memutuskan untuk kembali masuk rumah. Masuk kamar mandi dengan tujuan mau cuci kaki, tangan, dll. Saat cuci kaki itulah merasakan kesemutan yang semakin hebat, malah terasa menjalar naik ke bagian atas, sudah sampai area perut dan dada. Sisi kiri. Saya mempercepat urusan cuci mencuci, lalu langsung menuju kamar, rebahan.
Begitu rebahan di atas kasur, rasa kesemutan malah semakin menjadi. Tangan kiri dan wajah bagian kiri kini juga terasa kesemutan hebat. Untungnya telepon dalam jangkauan, lalu segera telepon Mama, yang saat itu ada di dapur. Melalui telepon, minta tolong pada Mama untuk dibawakan Tensimeter ke kamar. Hasilnya ± 160/100. Saya belum pernah setinggi itu. Akhirnya diberikan obat penurun tekanan darah.
Lalu saya kembali menelepon, kali ini menghubungi seorang kawan SMP yang kini menjadi seorang dokter. Dia bertugas di Kota Banjarmasin. Saya telepon Aan, lengkapnya dr. Fathia Arsyana, Sp.KFR, untuk menanyakan apa saja gelaja stroke itu sembari menjelaskan apa yang sedang dialami. Aan menyampaikan bahwa saya memang sedang mengalami itu. Aan bilang lebih baik segera dibawa ke rumah sakit.
Segera saja saya menelepon seorang kawan lain di Rumah Sakit Daerah (RSD) Idaman Kota Banjarbaru. Saya pikir sudah pasti akan diopname, kalau kamar di RSD Idaman penuh, saya akan cari rumah sakit lain yang ada kamar tersedia. Harun, adik kelas dan teman saat SMP membantu mencarikan informasi ketersediaan kamar, alhamdulillah ada yang kosong. Malah kami sempat bercanda pula di telepon, tapi Harun kaget waktu mendengar saya bilang sedang mengalami gejala stroke. Becandanya berhenti 😀
Lalu kembali minta tolong pada Mama untuk mengambilkan beberapa potong kaos dari lemari, dan dimasukkan ke dalam tas. Buat bekal rawat inap. Mama pula yang kemudian telepon adik agar segera datang ke rumah. Biar bisa bantu mengemudi, mengantar ke rumah sakit. Saya masih rebahan di kasur, masih merasa kesemutan. Mama terlihat cemas dan panik, saya bilang tenang saja. Sudah siap untuk ke rumah sakit.
Pada antara itu semua, mungkin kabar sudah beredar di beberapa orang kawan. Jadi saja ada yang telepon, bahkan sampai ada yang datang ke rumah. Terima kasih banyak untuk itu. Karena ternyata kabar yang sampai cukup dramatis. Saya drop dan sedang sendirian di rumah. Bisa jadi persepsi itu timbul karena saya sendiri yang telepon ke sana kemari. Plus, entah apa yang saya sampaikan sambil pusing.
Akhirnya pagi itu, saya dibawa ke IGD Rumah Sakit Daerah (RSD) Idaman Banjarbaru. Tentu saja tanpa sempat mandi pagi. Benar saja, harus menjalani rawat inap, yang kemudian dijalani selama beberapa hari. Hasil diagnosanya: Stroke Iskemik.



Tinggalkan sebuah Komentar