Yulian Amroni Manan

Selamat Jalan, Boi…

“Pokoknya, pertama tahu kamu itu jengkel banget rasanya,” demikian kata Yulian setiap kali kami mengingat bagaimana interaksi dan berjumpa untuk pertama kalinya dahulu. Kesan itulah yang selalu membuat kami berdua tertawa saat mengingatnya. Ditambah lagi aku yang secara serampangan mengira dirinya adalah seorang penyiar radio. Jauh sekali, ternyata saat itu ia bekerja di Telkom, di Banjarmasin.

Kesan ketidakcocokan yang kemudian kami pertahankan sekian lama. Jika di depan orang lain. Tidak jarang kami dulu berselisih dan ribut di komentar FB, entah di akun siapa, sudah lupa. Padahal saat lagi ribut adu komentar itu kami sedang duduk santai bersebelahan, sambil cekikikan. Tentu saja yang punya lapak tidak tahu hal itu.

Pertama Ketemu Yulian.
Yulian Amroni

Foto ini adalah momen pertemuan pertama kali dengan Yulian, yang waktu itu masih tampak chubby dan lebih banyak diam.

Dulu, di sebelah kantornya Yulian ada sebuah warung yang ayam gorengnya enak. Itulah tempat kesukaanku makan siang jika sedang ke Banjarmasin. Jika sudah mampir ke sana, sudah pasti Yulian ku telepon. Ia lalu keluar kantor, dan jadilah menemaniku makan siang bersama. Yulian adalah kawan yang paling sering menjadi kawan makan siang di Banjarmasin.

Tahun berganti. Yulian pindah ke Banjarbaru. Sejak kepindahan itu, Yulian selalu datang ke rumah tiap Sabtu malam. Kami ngobrol hingga pukul dua atau tiga dini hari. Barulah kemudian ia pulang.

Sungguh malam mingguan yang tidak lucu, sebab kesannya jadi rutin diapeli lelaki, berjambang pula. Itu sebelum Yulian kenal Mingguraya. Setelah kenal Mingguraya, Yulian beralih tempat nongkrong. Aku yang kemudian sesekali ke sana pula.

Waktu berjalan. Kontrak Yulian di Telkom harus berakhir. Pada masa-masa ini, ada satu hal yang terus kuingat. Yulian bercerita bahwa ia pernah ditawarkan oleh saudaranya untuk kembali ke Lampung berikut sebuah tawaran posisi pekerjaan di sana. Yulian memutuskan untuk tetap tinggal di Banjarbaru. “Kedua orang tuaku sudah tidak ada. Sementara istriku, ibunya masih ada. Anak²ku masih memiliki nenek di sini. Kasihan mereka jika harus terpisah jauh. Biarlah aku yang mengalah,” demikian ucapnya.

Kemudian Yulian berkesempatan bergabung di Sekretariat KPU Kota Banjarbaru. Berawal sebagai tenaga pendukung, kemudian menjadi tenaga pramubakti. Terakhir, sudah siap diangkat menjadi PPPK. Pemberkasannya sudah selesai, tinggal menunggu SK. Takdir memiliki jalannya sendiri. Ketika aku masih berada di institusi yang sama, ada satu hal yang patut menjadi catatan. Sepertinya memang begitulah karakternya. Bahwa Yulian selalu menyembunyikan ‘rasa sakit’. Sepanjang ia merasa mampu, ia akan melakukan tugasnya. Kecuali ia sudah benar-benar tepar dan tak bisa disembunyikannya lagi.

Jumat, 14 Februari 2025 yang bertepatan dengan 15 Sya’ban 1446H. Jelang pukul 9 pagi di Banjarbaru, aku menerima kabar bahwa Yulian sudah tidak ada lagi. Berselang menit kemudian, telepon berdering. Tampak kontak Yulian menghubungiku, aku tahu, itu adalah istrinya yang menelepon. Panggilan kuangkat, terdengar suara terisak istri Yulian menyampaikan kabar duka dan Yulian sedang dibawa ke rumah. Aku terdiam sejenak, lantas bergegas mandi, dan menuju ke rumahnya. Hingga mengantarkan ke pembaringan terakhirnya.

Yulian Amroni, yang sebagian kawan-kawannya di Banjarbaru bahkan Kalsel mengenalnya dengan nama Yulian Manan, menggunakan nama orang tuanya. Aku bersaksi dengan sebenar-benarnya, bahwa kau adalah orang baik, sahabat yang baik dan sudah seperti saudara sendiri bagiku.

Selamat jalan, Boi… (demikian aku selalu memanggilnya).
Semoga Allah SWT. selalu sayang padamu…

Salam.

Mhd Wahyu NZ

Ikuti » Kanal Telegram

ANIQS - Pakaian Muslim Pria
ANIQS - Pakaian Muslim Pria

Tinggalkan sebuah Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir Ke Atas