Ilustrasi Sahroni Pentol Korek

Sahroni, Sekadar Pentol Korek

Entah apa yang ada dalam benak Presiden Prabowo pada beberapa hari terakhir ini, karena mendapati suasana negeri yang sedang tidak baik-baik saja seperti ini. Demonstrasi sudah mulai rusuh dan menelan korban jiwa.

Sementara pihak beranggapan bahwa apa yang terjadi saat ini diakibatkan oleh -salah satunya- ucapan dan perilaku salah satu anggota DPR RI, Ahmad Sahroni. Sahroni sendiri saat ini sudah dicopot dari jabatannya sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR RI.

Ada pula yang berpendapat bahwa pemberhentian Sahroni dan Eko Patrio sebagai anggota DPR RI akan menjadi jawaban atas rusuh massa yang telah terjadi. Sayangnya aku tidak berpikir seperti itu. Tidak sesederhana itu.

Bagiku, Ahmad Sahroni laiknya hanya sekadar pentol korek yang muncul di lapangan rumput yang sudah kering. Demikian pula dengan Eko dan beberapa anggota DPR RI lainnya. Sehingga problem utamanya adalah pada lapangan rumput yang mengering. Solusinya bukan membuang pentol korek.

Begitu kompleks penyebab keringnya lapangan rumput yang seyogyanya hijau dan indah. Partai politik dan politisi memiliki kontribusi yang besar dalam hal ini. Demikian pula institusi lain seperti Polri dan lembaga penegak hukum lain yang sepertinya sangat sulit mendapatkan kepercayaan publik.

Kita bisa tambahkan persoalan ekonomi sebagai sebuah kemarau panjang yang membuat rumput-rumput itu semakin mengering. Bagaimana dengan demokrasi yang dirusak dalam sepuluh tahun terakhir? Mungkin itu isu elitis, tapi bisa menjadi udara kering.

Ketika suasana begitu kondusif untuk terbakar, Sahroni kebetulan muncul dengan polah pongahnya. Blep… api menyambar. Jadilah kemudian apa yang kita saksikan saat ini. Pentol korek memang salah, namun ada masalah yang jauh lebih mendasar daripada itu.

Presiden Prabowo sudah pun memerintahkan agar insiden yang mengakibatkan tewasnya seorang pengemudi ojol diusut secara tuntas dan transparan serta petugas-petugas yang terlibat harus bertanggung jawab. Pun mengimbau masyarakat untuk tenang, untuk percaya dengan pemerintah yang beliau pimpin.

Entah mengapa rasanya pernyataan resmi Presiden Prabowo tidak akan cukup untuk menghijaukan kembali lapangan rumput yang telah kering.

Pada saat yang bersamaan, Prabowo harus mampu menjadi Soeharto dengan ketertiban dan pembangunannya. Menjadi Habibie dan SBY dengan teknokrasi dan demokrasinya. Menjadi Gus Dur dengan kemanusiaan dan keberaniannya.

Sementara saat ini, aku teringat lebih dari dua puluh tahun lalu. Ketika rutin ke rumah Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun yang jauh di pelosok Jombang. Prabowo pun pernah ke sana. Suatu ketika Cak Nun berkata dan menyampaikan pesan, bahwa Indonesia akan berdarah-darah sekali lagi untuk kemudian bisa bangkit dan menjadi besar.

Mendengar itu, dan mengingat itu, aku hanya bisa berkata, Ya Allah… tolonglah kami

Salam.

Mhd Wahyu NZ

Ikuti » Kanal Telegram

ANIQS - Pakaian Muslim Pria
ANIQS - Pakaian Muslim Pria

Tinggalkan sebuah Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir Ke Atas