“Tenang saja. Perpisahan tak menyedihkan. Yang menyedihkan adalah, jika habis ini saling lupa…”. Demikian penggalan lirik lagu berjudul Tenang Saja, ciptaan Pidi Baiq dan dibawakan oleh The Panasdalam. Sebetulnya catatan ini tidak ada kaitan sama sekali dengan lagu itu, hanya saja ketika membaca berita bahwa pelajar SMAN 1 Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar dinilai menggelar acara perpisahan secara berlebihan atau tidak patut.
Sebenarnya pada Juli 2024 lalu sudah pernah menerbitkan catatan tentang hal sejenis ini. Silakan baca di sini. Rasanya substansi catatan itu masih relevan dengan saat ini. Persoalan tempatnya adalah hotel, klub, pub, atau tempat hiburan lainnya bukanlah poin utama. Intinya, sampai saat ini masih tidak menemukan jawaban atas sejumlah pertanyaan mendasar yang disampaikan pada catatan tahun lalu itu.
Maka kemudian teringat bagaimana saat kami dulu menggelar acara Pengukuhan bagi siswa yang baru lulus. Acaranya dihelat dengan sangat sederhana namun khidmat, bahkan haru. Kami, seluruh siswa yang baru lulus, berbaris rapi di aula sekolah. Kepala Sekolah memberikan semacam sertifikat bagi setiap siswa. Sama sekali jauh dari kesan mewah dan berlebihan.
Hal lain yang masih jelas teringat adalah ketika usai pengukuhan, beberapa dari kami berkumpul di lapangan basket. Kemudian melihat sejumlah kawan yang tampak ramai mencoret-coret bajunya. Ada yang menggunakan spidol, ada pula cat semprot. Mungkin dari kelas kami tidak sampai lima orang yang ikut keramaian itu. Sisanya hanya memandang sambil tertawa.
Zaman memang sudah berbeda. Apa yang dihadapi oleh anak-anak saat ini mungkin tidak kami hadapi. Jangankan internet dan segala bentuk penetrasi informasinya, zaman kami dulu telepon genggam pun belum ada. Tapi juga harus diingat, zaman memang berbeda, namun pada dasarnya hanya sebuah pengulangan. Hanya pelaku, bentuk, dan medianya saja yang berbeda.
Kenakalan pelajar dari dulu ya sudah ada, sekarang pun ada. Hedonisme? Dari dulu sampai sekarang juga ada. Semua hal pada prinsipnya seperti itu, dari dulu sampai sekarang juga ada. Itu jika mampu memahami substansi. Jika terjebak dan memperdebatkan hal-hal teknis, berarti tidak memahami substansi. Tidak layak mendebat lebih lanjut.
Sepanjang memiliki dan memegang nilai dasar kebenaran dan kebaikan yang kuat, tidak akan menjadi masalah. Sisanya adalah kemampuan bertahan menghadapi transformasi tantangan. Maka beruntunglah mereka yang masih menganut “nilai-nilai lama” yang bagi sebagian orang dinilai ketinggalan zaman.
Dus, pendidikan akan menjadi percuma dan sekadar menjadi pengisi waktu luang jika tidak mampu menanamkan nilai-nilai kebaikan, kebenaran, kehormatan, dan segala hal baik/positif lainnya. Pendidikan lebih luas daripada pengajaran. Pendidikan tidak perlu takut ‘ketinggalan zaman’, sebab pendidikan yang seharusnya membentuk zaman.



Tinggalkan sebuah Komentar