Sepertinya dunia baru saja menyaksikan sebuah perisakan tingkat tinggi. Pelakunya adalah Xi Jinping, Presiden China. Sedangkan yang menjadi korban adalah Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Momen yang digunakan untuk itu adalah perayaan dalam rangka memperingati 80 Tahun Kemenangan Perang Perlawanan Rakyat China. Sebuah perayaan besar yang tentu saja disertai parade militer China secara besar-besaran.
Presiden Indonesia sendiri, Prabowo Subianto yang sebelumnya dikabarkan terpaksa membatalkan hadir karena situasi dalam negeri, pada akhirnya berangkat ke China untuk menghadiri undangan. Meski hanya untuk delapan jam berada di China.
Foto dan video acara itu juga tentu sudah banyak beredar. Salah satu foto memperlihatkan Xi Jinping diapit oleh Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Korea Utara Xim Jong Un. Presiden Prabowo sendiri terlihat berdiri di sebelah Putin. Ingat, urusan foto kenegaraan itu berbeda dengan acara foto-foto biasa.
Apa yang menarik adalah ketika Amerika Serikat tidak diundang dalam acara tersebut. Bahkan dalam pidato resminya, Xi Jinping tak sekalipun menyebutkan Amerika Serikat. Itulah yang membuat Donald Trump sepertinya cemburu dan merasa ditinggalkan.
Bagi yang gemar mengikuti berita mancanegara, mungkin sudah mengetahui bagaimana respons Trump atas hal ini. Ia memang memuji acara tersebut, tapi kemudian juga berkata bahwa seharusnya China menyebutkan Amerika.
Kemudian, Trump berkomentar semakin jauh lagi, ia menuduh China telah berkonspirasi dengan Rusia dan Korea Utara untuk melawan Amerika. Sepertinya Trump benar-benar sakit hati karena tidak dianggap oleh China.
“Please give my warmest regards to Vladimir Putin, and Kim Jong Un, as you conspire against The United States of America,” demikian pesan Trump melalui Truth.
Atas pesan pesan tersebut, Pemimpin Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa klaim Donald Trump tentang adanya “konspirasi” terhadap Amerika Serikat menunjukkan bahwa presiden AS tersebut memiliki “selera humor”. Sebuah tanggapan yang berkelas dari Putin.
Karenanya, sulit untuk tidak menanggap bahwa apa yang terjadi adalah sebuah perisakan tingkat tinggi, yang tidak semua orang bisa melakukannya. China melakukannya, dengan tenang dan terasa begitu menyakitkan bagi korbannya. Diamnya China justru langsung menyerang langsung ke psikis Donald Trump.
China sepertinya benar-benar memahami, bahwa Trump adalah sosok yang haus perhatian dan senang menjadi pusat perhatian. Trump memang mendapatkannya, namun dengan penyebab dan cara yang berbeda.
Tentu saja, ada alasan mengapa China tidak mengundang AS, dan mengapa Xi sama sekali tidak menyebutkan AS. Hanya China dan Xi yang tahu penyebab sebenarnya. Menilai bahwa itu sebuah perisakan juga belum tentu benar. Tapi sulit untuk tidak mengatakan begitu mengingat perilaku AS dan Trump selama ini terhadap China.
Oh ya, jika ada yang belum tahu perisakan, kupikir itu adalah salah satu kata dalam Bahasa Indonesia yang maknanya mendekati bully. Kata kerjanya adalah merisak, yang berarti mengusik, mengganggu, merundung.



Tinggalkan sebuah Komentar