Hari ini sampai dengan besok tanggal 20 Juni 2025 masih merupakan masa pendaftaran dalam rangka SPMB tingkat SMP di Kota Banjarbaru. Mau tidak mau, dan jaman memang berubah, sangat jelas sekali perbedaan dengan apa yang dialami dan dirasakan ketika dahulu mendaftarkan diri sendiri untuk memasuki SMP. Mau tidak mau jadi teringat proses yang harus dijalani saat itu, pada paruh kedua tahun 80-an.
Tidak seperti kebanyakan anak-anak yang baru lulus SD saat itu, aku harus datang sendiri ke sekolah pilihan. Sebuah SMP yang tidak jauh dari rumah, yang jika ditarik garis lurus hanya berjarak ±725 meter. Namanya SMP Negeri 2 Banjarbaru. Abah sedang di kuliah lagi Jakarta, Mama harus bekerja. Akhirnya berangkan sendirian.
Jadilah aku sebagai anak yang baru lulus SD, dengan mengenakan celana pendek sambil menenteng map yang berisi beberapa dokumen, mendaftarkan diri sendiri ke SMPN 2 Banjarbaru. Terlihat banyak sekali orang. Setiap anak yang kulihat, bersama dengan orang tuanya. Tapi tidak ada perasaan sedih atau gugup. Biasa saja.
Kemudian aku berjalan menuju tempat pendaftaran, semacam loket, begitu seingatku. Kemudian mendapatkan formulir untuk diisi. Maka kemudian bergegas mencari tempat untuk mengisi formulir yang diberikan tersebut. Setelah selesai mengisi, barulah kemudian merasa bingung karena melihat bagian akhir dari formulir tersebut.
Terdiam sejenak melihat bagian tanda tangan yang judulnya Orang Tua/Wali. Bingung karena datang sendiri, bagaimana nanti mengisi baris tanda tangan itu. Sementara sudah bertekad bahwa proses pendaftaran harus selesai pada hari itu juga. Entah berapa lama terduduk sendirian, sambil tolah-toleh, tak tahu apa yang dilihat.
Akhirnya beranjak menuju loket pendaftaran semula. Ada seorang bapak, kemudian tahu bahwa beliau adalah seorang guru. Lalu menanyakan apakah boleh tanda tangan itu bukan tanda tangan orang tua sendiri. Beliau menjawab boleh dan menjelaskan lebih lanjut sehingga paham bahwa itulah yang dimaksud wali. Separuh masalah sudah teratasi. Tinggal separuh lagi, yakni siapa yang akan menandatangani formulir pendaftaran tersebut.
Setelah beberapa waktu kembali duduk di koridor, tiba-tiba terlihat tetangga, teman bermain yang juga sedang mengurus pendaftaran di SMPN 2 Banjarbaru yang datang bersama ayahnya. Langsung ku hampiri mereka dan berkata kepada ayahnya, “Pak, pian hakunlah tanda tangan ampun ulun? Abah ulun lagi kadada, mama lagi begawi.” yang berarti, “Pak, mau nggak tanda tangan punya saya. Abah saya sedang tidak ada, mama sedang bekerja.”
Beliau tersenyum dan mengatakan bersedia tanda tangan formulir pendaftaran untukku. Aku sudah tahu, artinya beliau menjadi wali. Aku pun mengucapkan terima kasih kepada beliau. Kalau ada yang berpikir aku senang, itu salah. Yang benar adalah aku sangat senang. Akhirnya bisa masuk ke SMPN 2 Banjarbaru.
Aku hanya mendaftar ke satu sekolah, ya SMPN 2 Banjarbaru itu saja. Dulu ada pilihan kedua, itu tidak diisi. Karena sudah yakin akan masuk. Sebab persyaratannya saat itu adalah Nilai Ebtanas Murni atau NEM yang akan diurut dari tertinggi hingga terendah sesuai kapasitas. Urut kacang. Aku tahu dan yakin akan lulus. Prestasi tertinggi adalah justru ketika anak yang baru lulus SD mendaftar SMP sendirian ketika itu.



Tinggalkan sebuah Komentar