Salah satu jenis tanaman yang tumbuh di halaman adalah Anggur Brasil atau Jaboticaba (Plinia cauliflora). Usianya sudah beberapa tahun, lupa persisnya. Mungkin sudah ada sekitar 4-5 tahun. Usia itu maksudnya adalah usianya tertanam di halaman rumah. Jika usia pohonnya sendiri memang tidak tahu. Jelas lebih dari 5 tahun.
Daunnya kecil-kecil namun lebat, tidak deras. Karena yang deras itu adalah hujan yang sesekali turun di musim kemarau ini. Jika berbuah, buahnya kecil dan bulat seperti anggur. Buahnya menempel di batangnya. Meski pernah merasakan buahnya, tapi bukan berasal dari pohon yang ditanam sendiri ini. Melainkan dari pohon lain di tempat penjual bibitnya dulu.
Pohon Anggur Brasil di rumah ini memang belum berbuah. Mungkin perlu waktu sekitar 2-3 tahun lagi. Itu pun Insya Allah. Terlebih lagi niat utamanya bukan untuk menikmati buahnya, melainkan untuk membuat kanopi alami, sebagai peneduh di sebagian halaman. Jika kelak berbuah, itu adalah bonus. Alhamdulillah.

Rantingnya banyak, dan itulah yang potensial kelak dijadikan kanopi alami, meski tidak sebesar ketapang, tapi bisa jadi peneduh sekaligus bisa menghasilkan oksigen. Awalnya ranting-rantingnya dibiarkan tumbuh kian kemari, untuk dilihat yang paling pas menjadi peneduh.
Kemarin, Anggur Brasil itu kembali dipangkas sebagian. Mungkin hampir separuhnya. Selain itu memaksimalkan pertumbuhan sesuai keinginan, sekaligus membersihkan benalu yang tumbuh.
Meski beberapa tulisan menyebutkan bahwa Benalu Duku juga memiliki khasiat dan berpotensi dijadikan obat herbal, tetap tidak tertarik untuk membiarkannya tetap tumbuh. Meski tidak terlalu banyak benalu yang tumbuh, tapi tetap saja terasa mengganggu. Atau setidaknya terlihat mengganggu.
Karena dilarang langsung membuang potongan dahan dan ranting potong ke tempat pembuangan sampah sementaranya, akhirnya potongan dahan dan ranting itu kembali di potong pendek-pendek untuk kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik. Setelah itu di buang ke tempat sampah. Cara itu masih diperbolehkan.
Ketika memangkas Anggur Brasil itulah mengetahui, bahwa benalu memiliki daya tahan yang sangat rendah. Tidak lama, hanya dalam hitungan menit setelah ranting tempatnya tumbuh dipotong, benalu itu mulai layu. Sementara daun inangnya masih belum berubah menjadi layu.
Sementara pohon mangga yang ada di dekatnya juga ditumbuhi benalu yang sama. Sudah pernah pula dipangkas, bahkan dipangkas habis. Untuk sementara, biarkan saja mangga itu berjuang menghadapi masalahnya sendiri, yakni penggerek batang. Sebuah masalah klasik bagi pohon mangga di sini, yakni belum bisa diatasi.



Tinggalkan sebuah Komentar