Ikan keli, atau kami biasa menyebutnya sebagai kali. © mwahyunz.id

Kali Pertama Diperkenalkan Datu

Pertama, jika disebut Datu, maka di sini berarti adalah orang tuanya kakek/nenek (kai/nini – Banjar) dalam silsilah keluarga. Walau dalam Budaya Banjar istilah ‘datu’ bisa memiliki beberapa makna. Kedua, jika disebut ikan kali, maka itu adalah ikan keli. Pelafalan yang kami gunakan bisa menyebutnya ikan yang sama sebagai keli atau kali. Tapi jika datu yang berkata, maka akan menyebutkan sebagai kali.

Kemudian, jika ada yang menyebut keli atau kali itu seperti lele, tidak bisa disalahkan. Jika mau tahu perbedaan antara keli dan lele, bisa cari di mana saja. Sebagai orang yang tidak mengerti spesies ikan, aku termasuk yang mengatakan bahwa keli/kali dan lele adalah berbeda, dalam hal rasa. Jadi dapat dimengerti, bahwa ini bukan perihal spesies ikan, tapi tentang bagaimana menikmatinya.

Apa urusannya ikan kali itu dengan datu?

Datu, yang secara langsung merupakan neneknya mama dan mama memanggil beliau nini. Nama beliau adalah Bintang Timur. Karena terpengaruh dan mengikut mama, lantas memanggil beliau dengan nama Nini Imur. Beliau seorang pedagang yang menjual aneka jenis pupur yang diproduksi sendiri. Beliau juga menjual ragi, serta aneka rempah-rempah. Toko beliau di Pasar Kindai Limpuar, Gambut, Kabupaten Banjar.

Datu atau Nini Imur-lah yang pertama kali memperkenalkanku dengan menu berbahan dasar utama ikan keli atau kali tersebut. Ketika beliau tinggal bersama kami dan bulan Ramadhan, beliau kerap membawakan ikan kali yang dipanggang atau bakar. Kali panggang itu dinikmati bersama cacapan. Kali panggang itu beliau beli di pasar wadai dekat beliau berdagang.

Pengalaman menikmati kali itu terus tersimpan dan selalu muncul saat Ramadhan tiba. Terlebih lagi pasar wadai saat ini sudah tidak seperti dulu lagi. Sudah berkurang penjual masakan tradisional, dan semakin bertambah makanan-makanan baru yang tidak kukenal nama dan tampilannya. Konon itu adalah makanan kekinian.

Aku memang tak pernah tertarik dengan hal apa pun yang katanya kekinian, atau makanan yang sedang tren. Apalagi yang viral, semakin tidak membuat tertarik. Aku merasa beruntung karena memiliki kemerdekaan selera yang tidak bisa dipengaruhi oleh siapa pun.

Kali atau keli, sudah jarang ditemui di pasaran. Ketika beberapa hari lalu mencoba ke pasar subuh, lebih kurang pukul 04.00 Wita, secara tidak sengaja di antara para penjual ikan melihat ikan keli yang masih hidup. Sontak ingatan akan kali panggang yang biasa dibawakan datu kembali muncul. Jadilah kemudian membeli beberapa ekor. Hanya saja rencana untuk memanggang dibatalkan, cukup digoreng saja.

Mungkin tak seperti kali panggang sebagaimana diperkenalkan dan dibawakan oleh datu, dan memang tak akan pernah sama. Setidaknya sedikit rasa rindu itu telah digenapi. Jika kelak menemukan kembali kali atau keli, mungkin akan mencoba dipanggang. Hal terakhir adalah: Jangan bertanya tentang harganya, karena lupa.

Salam.

Mhd Wahyu NZ

Ikuti » Kanal Telegram

ANIQS - Pakaian Muslim Pria
ANIQS - Pakaian Muslim Pria

Tinggalkan sebuah Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir Ke Atas