Baru saja terbaca sebuah artikel pada salah satu media massa nasional. Milik salah satu pelopor media massa daring di Indonesia. Memang bukan hard news, melainkan artikel umum saja. Apa yang mengejutkan adalah bagian akhir dari artikel tersebut, yang mencantumkan: “Sumber: AI Generated”.
Mungkin sebagian tidak akan memiliki masalah dengan hal tersebut. Sebagian lagi bisa jadi merasa terusik, mendapati sebuah media massa nasional menerbitkan artikel dengan bersumber dari Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan, yang sayangnya akan rancu jika disingkat menjadi KB.
Jika itu sebuah blog pribadi, seperti laman ini, mungkin masih biasa saja. Bahkan di laman ini pun hanya terdapat satu tulisan yang dibuat dengan menggunakan bantuan AI, yakni catatan pada tahun 2023 lalu yang berjudul “Ancaman Kecerdasan Buatan“. Dari pilihan judul catatan tersebut, tentu bisa dipahami rasa kekhawatiran terhadap AI.
Implementasi AI akan begitu luas. Artikel yang terbaca di atas hanya contoh yang sangat kecil. Kemampuan AI pasti akan semakin berkembang. Akan ditunjang oleh kemampuan memproses serta menganalisis data dalam jumlah yang semakin besar dengan semakin cepat. Jauh melebihi kemampuan manusia. Bagaimana nasib manusia?
Pendiri Microsoft yang memiliki Copilot, Bill Gates menyatakan bahwa dalam dekade berikutnya, kemajuan dalam kecerdasan buatan akan berarti bahwa manusia tidak lagi dibutuhkan untuk banyak hal di dunia. “Hal ini sangat mengesankan dan bahkan sedikit menakutkan – karena terjadi dengan sangat cepat, dan tidak ada batasannya,” kata Gate. Sebelumnya pada 2023, Gates juga menyatakan dalam tulisannya bahwa risiko AI memang nyata namun dapat dikelola.
Jelas ada risiko dalam hal apa pun, termasuk risiko potensi yang merusak. Dalam sebuah perbincangan dengan Joe Rogan, Elon Musk yang berada di belakang Grok menyatakan bahwa potensi kehancuran akibat AI itu sekitar 20%. Sementara kemungkinannya untuk memberikan hasil yang baik adalah sekitar 80%. Silakan pertimbangkan atau bahkan perdebatkan, apakah angka 20% itu termasuk besar atau kecil.
Hingga saat ini, patut diyakini bahwa kecanggihan sebuah kecerdasan buatan masih tetap tergantung pada kecerdasan pembuatnya. Hal tersebut akan membuat kemampuan setiap aplikasi AI akan berbeda. Ambil saja contoh beberapa AI chat assistant, baik itu ChatGPT, Grok, DeepSeek, Le Chat, Gemini, Copilot, atau lainnya. Berikanlah prompt atau perintah yang sama. Bandingkan hasilnya.
Bagaimana dengan sikap publik? Ambil contoh dalam dunia bisnis. Menurut survei yang dilakukan oleh Gartner, didapati bahwa 64% pelanggan lebih memilih perusahaan tidak menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam layanan pelanggan mereka. Selain itu, 53% pelanggan akan mempertimbangkan untuk beralih ke pesaing jika mereka mengetahui bahwa sebuah perusahaan akan menggunakan AI untuk layanan pelanggan.
Contoh hasil survei di atas setidaknya memberikan gambaran bahwa mayoritas manusia masih memilih manusia lainnya. Terlebih lagi jika itu memang memerlukan relasi antar manusia. Akan tetap ada kebutuhan manusia yang tidak bisa dipenuhi oleh AI, secerdas apa pun. Akan tetap ada kemampuan manusia yang tidak bisa digantikan oleh AI, sehebat apa pun.
Hanya saja, juga ada manusia-manusia yang akan menjadi korban. Jika kecerdasan semakin buatan, maka manusia harus mengimbangi dengan pemahaman terhadap dirinya sendiri.



Tinggalkan sebuah Komentar