Perawat itu menyapa saya yang sedang berdiri sendiri. “Maaf, Pak. Bapak yang namanya Pak Wahyu, ‘kan?” tanyanya. Saya menjawab benar itu saya dengan suara dari balik masker yang rapat. Ia melanjutkan, “Maaf, Pak. Dokternya sudah ada di kamar.” Saya pun menyampaikan terima kasih atas informasi tersebut. Kemudian segera berjalan kembali ke kamar rawat inap.
Perlahan saja saya berjalan, sembari berpegangan pada tiang infus. Benar saja, ternyata dokter spesialis saraf, dr. Fatmawati, Sp.S dengan didampingi oleh beberapa orang perawat sudah ‘menunggu’. Mau visite. Sesampainya saya, dokternya bilang, “Kalau jatuh bagaimana, Pak?”. Saya senyum, tapi tak kelihatan karena pakai masker. Hanya mendadak jawaban pendek dan spontan yang terucap, “Ke bawah, Dok”.
Pada lain hari, kembali lagi saya buka pintu kamar rawat inap. Kali ini setelah dokter melakukan visite. Begitu menutup pintu kamar, ternyata di koridor bertemu dengan seorang perempuan. Kami berpandangan, berusaha mengenali. Karena pakai masker. Tapi saya mengenali sambil bertanya, “Dokter Ani?” yang maksudnya adalah dr. Hj. Ani Rusmila, Kabid. Pelayanan di RSD Idaman Banjarbaru. “Lho, Pak Wahyu?” beliau menanggapi.
Jadilah kemudian ngobrol-ngobrol sebentar di koridor. Ternyata suami beliau baru saja masuk rumah sakit dan juga rawat inap. Cuma yang bikin kaget waktu beliau bilang bahwa suaminya kenal dengan saya. Jadi saja saya bertanya siapa suaminya, dan dirawat di kamar yang mana. Singkat cerita, saya bertandang ke kamar sang suami, dan ternyata benar, saya mengenalinya. Kakak kelas waktu SMP dan SMA. Jadilah kemudian ngobrol-ngobrol lagi di ruangan ‘pasien lain’.
Kejadian-kejadian itu mungkin sedikit kisah saat harus menjalani rawat inap dengan waktu itu. Entah dinilai pasien macam apa. Suka sekali jalan keluar dari kamar. Walau harus berjalan perlahan sambil membawa tiang infus. Lebih tepatnya berpegangan. Sebenarnya pernah mau mengunjungi beberapa ruangan teman-teman yang bekerja di sana. Tapi diurungkan, khawatir tumbang di jalan.
Masalah utama ketika harus rawat inap di rumah sakit memang rasa bosan. Maka dari itu berusaha beraktivitas sebagaimana itu sebagian di antaranya sudah diceritakan 😆
Tapi ada hal lain lagi yang bikin kesal. Yakni gara-gara rawat inap, saya jadi sempat terpapar Drama Korea! Sempat lho ya, sehingga artinya tidak berterusan. Nantilah di lain kesempatan mencatat soal kisah ini. Yang waktu itu konsekuensinya tidak ringan itu. Selain dan selebihnya, saya tidak memiliki masalah.
Bahkan soal menu makanan yang dikeluhkan oleh sebagian pasien di rumah sakit mana saja. Tidak enak katanya. Saya tidak memiliki masalah dengan hal itu. Seluruh menu yang disajikan disantap habis. Bagian dapur tentu senang karenanya. Padahal modalnya cukup sederhana. Tinggal ditambah kecap atau bawang goreng.
Namun bagaimana pun, sudah pasti sehat itu lebih baik. Semua orang pasti setuju. Karenanya, jagalah selagi bisa.



Tinggalkan sebuah Komentar