Mengakali, yang memiliki kata dasar akal, menurut KBBI adalah sebuah verba yang maknanya bisa mencari akal (ikhtiar, daya upaya) untuk melakukan sesuatu, atau memperdayakan; menipu secara licik sekali. Maka makna ‘mengakali’ akan sangat tergantung pada konteks. Bisa menjadi positif/baik, bisa negatif/buruk.
Banyak hal yang bisa ‘diakali’ di dunia ini. Dari barang-barang yang rusak, sampai dengan aturan hukum, dan lain sebagainya. Konon, itulah yang membuat dulu beberapa dosen di Malang, saat mereka belajar di luar negeri bercerita suka sekali mengumpulkan barang elektronik rusak yang dibuang pemiliknya. Karena masih bisa diperbaiki, diakali. Servis di sana mahal.
Tapi yang mau dicatat di sini bukan soal sejenis. Melainkan soal ‘mengakali’ keadaan yang terbentuk karena sebuah kebijakan.
Bayangkan seperti ini, ada seorang gubernur yang mengeluarkan keputusan pada bulan Juli lalu, yang melarang sekolah, kabupaten, dan kota untuk mewajibkan masker dalam kapasitas apa pun. Meskipun pada waktu yang bersamaan terjadi peningkatan pesat dalam kasus COVID-19 di wilayah kekuasaan sang gubernur.
Keputusan sang gubernur tersebut mendapat tentangan dari banyak kalangan. Bahkan sampai ada yang mengajukan gugatan hukum. Salah satu argumentasi penolakan yang disampaikan adalah kebijakan tersebut akan menempatkan siswa dan staf dalam bahaya -terpapar COVID-19- terutama siswa dengan disabilitas.
Pada perkembangannya, ternyata ada wilayah di bawah sang gubernur yang menemukan ‘lubang’ untuk kemudian mengakali kebijakan sang gubernur.
Daerah tersebut menemukan cara untuk menghindari perintah gubernur yang melarang kewajiban mengenakan masker tersebut dengan cara mewajibkan penutup wajah sebagai bagian dari aturan berpakaian. Bahkan itu diambil pada hari yang sama ketika si gubernur dinyatakan positif COVID-19.
Sebuah keputusan yang diambil setelah diadakan sebuah pertemuan dengan para ahli kesehatan dan orang tua siswa. Aturan berpakaian itu memang tidak permanen, dan akan dievaluasi setiap bulan.
Sejumlah wilayah lain juga menentang keputusan gubernur dengan tetap mewajibkan masker, tapi yang satu itu selangkah lebih maju. Yakni dengan cara membuat aturan berpakaian, atau dress code. Aturan yang dibuat dengan dasar bahwa gubernur tidak memiliki wewenang untuk mengambil alih kekuasaan dan tugas Dewan Pengawas untuk mengatur dan mengawasi pengelolaan sekolah umum di wilayah tersebut.
Mungkin itu adalah salah satu cara cerdas mengakali gubernur. Mengakali yang masuk dalam pengertian mencari akal (ikhtiar, daya upaya) untuk melakukan sesuatu.

Hanya saja memang, kejadian itu tidak terjadi di Indonesia, melainkan di Amerika. Tepatnya di Negara Bagian Texas. Gubernurnya bernama Greg Abbot, seorang republikan. Gubernur Abbott -sama seperti banyak pemimpin dari Partai Republik lainnya- memang menentang keras persyaratan penggunaan masker. bahkan ketika rumah sakit negara bagiannya mulai penuh dengan pasien COVID-19 yang sakit parah.
Yang mengakali Gubernur Abbot adalah The Paris Independent School District. Walaupun ada beberapa orang tua siswa di Paris ISD di Texas menyuarakan kekecewaan mereka bahwa anak-anak mereka sekarang diharuskan memakai masker. Namun pihak Gubernur belum memberikan memberikan tanggapan atas hal ini.
Masker di Amerika memang telah menjadi isu politik yang kontroversial sejak awal pandemi. Para pemimpin Republik lainnya termasuk Gubernur Ron DeSantis (R-FL) dan Rep. Marjorie Taylor Greene (R-GA) terus mendorong keyakinan anti-masker mereka dan menyebarkan gagasan bahwa itu menghalangi kebebasan seseorang. Meskipun bertentangan dengan para ahli kesehatan.
Catatan ini memang dibuat gara-gara membaca sebuah berita yang berjudul Texas School Finds Loophole In Mask Ban By Requiring Them As Part Of The Dress Code. (Baca beritanya di sini)



Tinggalkan sebuah Komentar