Apakah mungkin prasangka buruk bisa menjadi modal positif?

Tidak Perlu Melayani Prasangka!

Suatu ketika mendapatkan pertanyaan yang lebih kurang seperti ini, “Bagaimana mensikapi jika Anda dituduh curang atau sejenisnya atau dikatain macam-macam?”. Redaksional persis pertanyaan mungkin lupa, namun begitulah substansinya. Maka atas pertanyaan itu, meluncurlah sebuah jawaban yang lebih kurangnya adalah: “Kita tidak bisa mengatur orang lain harus berpikir dan merasa seperti apa. Maka jika demikian keadaannya dan jika diperlukan, berikan saja penjelasan secukupnya. Tidak perlu dilayani terus-terusan.”

Dialog itu terjadi mungkin lebih kurang pada awal September 2018. Jawaban yang meluncur saja tanpa perlu dipikirkan atau dikarang-karang. Karena memang selama ini itulah yang menjadi salah satu pegangan dalam bersikap.

Jauh sebelumnya, juga pernah mendapatkan pertanyaan yang lebih kurangnya adalah tentang bagaimana mensikapi apa-apa yang orang lain lakukan terhadap kita, dan itu bukanlah sesuatu yang baik. Atas hal itu, kemudian meluncur pula jawaban pendek, “Aku tak peduli bagaimana sikap orang lain kepadaku, yang kupedulikan adalah bagaimana aku akan bersikap kepada orang lain.”

Dialog itu terjadi mungkin lebih kurang pada pertengahan 1996. Jawaban yang juga meluncur saja tanpa perlu dipikirkan atau dikarang-karang. Karena memang begitulah yang menjadi salah satu pegangan dalam bersikap. Saking begitunya, mungkin saja dinilai tidak pedulian. Bahkan sampai ada yang bilang itu prinsip bodo amat. Maka atas penilaian kawan itu, ya cukup bilang bodo amat 😀

Kali lain, ada pula kawan yang bertanya, “Bagaimana jika dirimu dikatai-katai jelek oleh orang lain tanpa sepengetahuanmu atau dibelakangmu?“. Maka atas pertanyaan itu, meluncur pula sebuah jawaban, “Kalau begitu, sampaikan terima kasih dan permohonan maafku pada dia yang melakukan itu. Terima kasih karena telah secara khusus menyediakan waktu dan tenaga untuk melakukannya. Mohon maaf karena aku tidak bisa melakukan atau memberikan hal yang sama.” Kawan yang bertanyapun manggut², entah karena apa.

Prasangka buruk itu hanya dimiliki oleh mereka yang sebetulnya memiliki energi berlebih, tapi tidak cukup cerdas untuk mencari penyaluran yang tepat dan positif. Maka jika suatu ketika kita sebagai manusia memiliki prasangka buruk terhadap sesuatu atau seseorang, tinggal cari cara cerdas dan positif saja untuk membuang atau mengalihkannya. Meskipun yang terbaik adalah, jangan pernah memilkinya. Apakah mungkin prasangka buruk bisa menjadi modal positif?

Salam,

Mhd Wahyu NZ © mwahyunz.id

Tinggalkan Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas