Rapid Test Antigen COVID-19
Rapid Test Antigen COVID-19

Rumus Terburuknya Hanya Dua!

Sebenarnya agak dibuat kesal juga ketika beberapa waktu lalu menyaksikan seorang mahasiswa dengan cara dan gayanya mengatakan bahwa adalah hak pribadi dia untuk memakai atau tidak memakai masker. Ingin rasanya bersuara lantang ke telinganya, ” Hei, blur! Silakan ente bicara soal hak! Sekarang coba bicara soal kewajiban!”.

Dua perkara itu memang perkara klasik. Antara hak dan kewajiban. Tidak hanya di Indonesia, di luar negeri sana bahkan lebih ekstrem (bentuk tidak bakunya: ekstrim). Perdebatan antara hak dan kewajiban dalam masa pandemi COVID-19 ini kadang menjadi sangat keras, sampai demonstrasi segala.

Demikian pula perkembangannya soal vaksinasi. Juga ada yang mau, dan ada yang tidak mau. Bahkan seorang Presiden Filipina, Rodrigo Duterte sangat geram pada warganya yang tidak mau divaksinasi. Untungnya di sini tidak ada pejabat negara yang seterbuka Duterte. Kalau soal dalam hati, wallahu a’lam bishawab.

Sejak awal pandemi dan mulai ramai fakta orang-orang terpapar di Indonesia, saya sudah memiliki keyakinan bahwa rumusnya terburuknya hanya ada dua: menularkan atau tertular! Keyakinan itu sampai saat ini masih bertahan.

Jika rumus terburuknya adalah tertular, maka tentu akan diiringi dengan konsekuensi lainnya. Bisa berat, bisa sedang, bisa ringan. Demikian pula halnya jika menularkan. Tentu ada konsekuensi turunannya. Hanya saja dalam soal ini cenderung tidak jelas. tapi pasti akan sangat menyedihkan dan menyesalkan jika menularkan, dan itu berakhir fatal bagi orang lain.

Sebab itulah, sejak tersedianya metode tes bagi publik untuk memeriksa Covid-19, saya secara rutin, paling kurang sebulan sekali melakukannya. Bahkan kadang lebih dari itu. Sejak tahun lalu hanya ada Rapid Test Antibodi, sampai saat ini sudah ada Rapid Tes Antigen. Sesekali di antaranya diselingi dengan melakukan pemeriksaan RT-PCR. Terakhir melakukannya kemarin (01/07/2021) sore. Sekaligus bersama Mama dan Abah di rumah.

Itu semua dilakukan dalam usaha untuk mengetahui terdampak atau tidaknya atas dua rumus terburuk tadi. Pemeriksaan memang bukan pencegahan. Karena pemeriksaan hanya menjelaskan keadaan dari sebelum sampai dengan waktu pemeriksaan. Tapi hasil pemeriksaan bisa dijadikan acuan untuk sikap kemudian, apakah ingin sembrono atau tidak.

Begitulah, karena rumus terburuknya hanya ada dua, silakan kemudian masing-masing memutuskan: Apakah ingin berada dalam kondisi tersebut atau tidak. Hanya saja, jika Anda abai, akan memperbesar kemungkinan tertular. Itu berarti sangat berpotensi menularkan. Akhirnya rumusnya bisa jadi satu.

Sebagai akhir, rasa simpati saya ucapkan kepada mereka yang terpapar padahal sudah disiplin. Itu berarti sudah menjadi suratan takdir. Rasa simpati juga saya sampaikan pada siapa pun yang telah kehilangan kerabat dan sahabat karena pandemi ini. Semoga Tuhan selalu sayang pada kita semua.

Ucapan terakhir pada yang abai dan meremehkan kondisi ini, “Hei, blur! Silakan berbuat sesukamu. Tapi kau pastikan dulu, itu cipratan liur dan hembusan udara yang kau keluarkan tidak jalan ke mana-mana. Jika tidak bisa memastikan, kau telan saja lagi! Jika tidak bisa juga, tolong segera pindah ke bulan!”

Salam,

Mhd Wahyu NZ © mwahyunz.id

Tinggalkan Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas