Rasa Takut yang Sangat Terlambat

Rasa Takut yang Sangat Terlambat

Sepanjang pengalaman melakukan donor darah, entah kenapa baru kemarin (29/08) sore itulah merasakan takut. Benar-benar untuk yang pertama kalinya merasa agak takut melihat jarumnya. Sampai sampai bingung sendiri dibuatnya. Hingga sore ini pun masih memikirkan penyebabnya. Padahal sampai dengan donor terakhir pada bulan Juni lalu, tidak pernah merasakan takut jarum.

Kemarin sore memang donor darah lagi. Donor darah terakhir sebelumnya, yang sudah 2½ bulan lalu itu, malah sempat mengusulkan agar yang donor darah dikasih bonus sate. Tapi kemarin sore itu memang berbeda. Benar-benar memiliki perasaan yang tidak sama dengan sebelum-sebelumnya. Rasa takut itu muncul ketika melihat ujung jarum yang akan ditusukkan itu.

Jika biasanya tenang saja dan selalu memperhatikan bagaimana ujung jarum menembus kulit dan masuk ke pembuluh darah, kemarin sore justru sempat mengalihkan pandangan. Karena tiba-tiba merasa ujung jarum yang ada lubangnya itu menjadi membesar. Lebih besar dari biasanya. Maka dari itu sampai sore ini berusaha merunut, kira-kira apa yang menjadi penyebabnya.

Sebelum diambil darah, saat itu di ruangan UTD tersebut ada yang akan donor konvalesen. Dua orang petugas UTD sibuk mempersiapkan peralatannya. Tapi sepertinya ada kendala, sehingga mereka harus menghubungi rekan lainnya, dan kemudian menerima instruksi darinya melalui panggilan video. Petugas UTD yang ada berkali-kali mengarahkan kamera ke pengaturan mesin pengolah plasma itu. Saat itu di kepala sudah mulai ada, “Duh… kok…”

Saat pemeriksaan tekanan darah dan Hb sebelum donor, berjalan dengan lancar. Hasilnya 117/72 mmHg dan 15,2 g/dL. Bisa diambil darahnya. Sehingga dapat disimpulkan faktor ini tidak menjadi penyebab munculnya rasa takut. Selama ini pernah tertunda donor memang karena persoalan tekanan darah. Tertunda karena Hb baru pernah sekali, itu pun sudah lebih dari 10 tahun lalu.

Maka dari itu, ini jadi curiga penyebab munculnya rasa takut itu adalah akibat melihat persiapan donor konvalesen itu tadi. Karena sempat jalan keluar dan bicara ke kawan yang kebetulan ada soal itu. Bukan soal konvalesennya, tapi soal kesiapan petugas mengoperasikan peralatan. Soal kesiapan SDM. Sebab untuk banyak hal, secara pribadi memang agak sensitif perihal begini ini.

Akibat itu pula sempat berusaha meluruskan pikiran. “Sudahlah, itu ‘kan hal yang berbeda. Sementara akunya ini mau donor darah biasa, mereka tentu sudah sangat terbiasa melakukannya. Pasti akan lancar. Cemunguuudh…”. Tapi ya tetap saja kemudian ada sisanya, tuing… lubang jarum jadi seolah membesar. Untungnya sebatas itu saja.

Terlepas dari itu, donor akhirnya berjalan dengan lancar. Setelah selesai, petugas bermaksud memberikan satu bungkusan yang sebagaimana biasa selalu kutolak. Tidak usah. Mbak petugas UTD yang nampaknya lebih muda itu kemudian berucap agar minum dulu, yang kemudian kujawab aku tidak minum, nanti mabuk. Dia nampak blank sejenak.

Pelajaran terpenting dari kejadian kemarin sore itu adalah, akan tidak mau lagi melihat/mengamati sesuatu di saat donor tentang hal-hal teknis lain selain dari pada donor yang akan dilakukan, agar tidak terpengaruh. Jangan sampai terulang munculnya kembali rasa takut yang benar-benar sudah sangat terlambat dan percuma. Terutama adalah agar bisa terus donor darah secara rutin.

Salam,-

Mhd Wahyu NZ © mwahyunz.id

Tinggalkan Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan tutup Banjarbaru dengan besi dan beton. Kita masih perlu tanah dan pepohonan!
Informasi jual beli tanah rumah Kalimantan Selatan
Gulir ke Atas