Ngeri, Potensi Penyebaran HIV di Banjarbaru

Potensi penyebaran HIV di Kota Banjarbaru dan Provinsi Kalsel

Ilustrasi Rapid HIV Test yang dilakukan oleh petugas medis. Gambar: circlecarecenter.org
Ilustrasi Rapid HIV Test yang dilakukan oleh petugas medis. Gambar: circlecarecenter.org

Sebelumnya perlu disampaikan bahwa dalam catatan ini sengaja tidak akan disebutkan nama orang serta nama lokasi/tempat kejadian tertentu secara jelas. Hal tersebut didasarkan pada beberapa pertimbangan yang diyakini untuk kebaikan orang per-orang tertentu. Selain itu catatan ini dimaksudkan sebagai pengingat yang mudah-mudahan kita akan selalu waspada dan menjaga perilaku. Tulisan inipun dibuat dan diterbitkan atas seijin yang bersangkutan. Jika tersebutkan Kota Banjarbaru, maka hal ini karena catatan ini dibuat di Kota Banjarbaru, oleh orang Banjarbaru, yang sayang dengan Banjarbaru.

Pada bulan Agustus 2019 ini, seorang kawan melakukan pemeriksaan terhadap seorang lelaki muda berusia ±23 tahun. Pemeriksaan tersebut dilakukan di salah satu kabupaten di Prov. Kalsel dan itu adalah pemeriksaan HIV. Hasilnya, sang pemuda tersebut HIV positif. Usai dilakukan konseling, diketahuilah beberapa hal yang dalam hal ini perlu menjadi perhatian banyak pihak.

 

Menurut pengakuannya, bahwa selama 4 (empat) tahun ia menjalin hubungan bebas dengan seorang perempuan yang saat ini telah pindah ke Kalimantan Tengah. Sejak awal tahun 2019, ia kerap jajan di lokalisasi yang ada di Kota Banjarbaru. Ya! Lokalisasi yang kabarnya telah ditutup tersebut! Tidak penting untuk ditanyakan, apakah di lokalisasi tersebut ia gonta-ganti perempuan, atau konsisten hanya dengan seorang perempuan saja. Bagaimanapun sudah jamak diketahui, seorang PSK tentulah akan melayani banyak lelaki yang datang padanya.

Kutipan kisah tersebut mungkin pendek. Tambahan informasi lainnya, beberapa hari lalu Sekretaris komisi penanggulangan AIDS (KPA) kota Banjarbaru Edi Sampana, SKM., M.Kes menyebutkan pengidap HIV di Banjarbaru masih banyak. Ada sekitar 600an pengidap HIV yang belum ditemukan di Banjarbaru. Jumlah pengidap sebanyak itu bervariasi kisaran umur 22-55 tahun. Mereka perlu segera ditemukan dan diberi penyuluhan agar tidak menulari orang lain.

Dari kisah pendek dan berita tersebut, sudahkah memiliki gambaran potensi penyebaran HIV yang mungkin terjadi di Kota Banjarbaru, dan Kalsel pada umumnya? Mungkin hanya satu kata: NGERI. Ya, wajar jika kita merasa takut dan khawatir atas keadaan tersebut. Apalagi pengetahuan dan kesadaran masyarakat kita tentang HIV/AIDS mungkin belum tinggi.

Jika belum juga memiliki gambaran, maka pikirkanlah. Jagalah diri dan keluarga kita. Semoga kita semua menjadi orang yang menjaga dan terjaga.

_
Salam. Bahagialah selalu...

Mhd Wahyu NZ
Telegram | Facebook