Menantu dan Mertua

Perkawinan, itu tidaklah sekedar relasi antar 2 (dua) individu berlainan jenis kelamin semata, tapi juga menyangkut hubungan yang lebih luas, antar keluarga dan lain sebagainya. Walau relasi menantu-mertua itu terbatas pada mereka yang memiliki ikatan tersebut saja. Menarik kadang, mengetahui bagaimana relasi dua status tersebut.

Pertama kali kenal sosok mertua dulu, waktu beliau masih berstatus calon mertua, itu sayalah mengira orangnya serius sangat. Namun untungnya ada prinsip utama yang saya pegang, “selama masih makan nasi, maka tak perlu gentar“. Akhirnya langkah pertama yang dicari tau adalah apa makanan beliau. Oh ternyata sama, nasi. Jadilah tak perlu khawatir.

Pernah suatu waktu, kami berdua berada di kebun, yang ini dulu kerap kami lakukan. Dengan wajah meyakinkan beliau berucap, ” Yu, ini jeruk yang rasanya paling beda”, ucap beliau sembari menunjuk ke sebatang pohon jeruk. Saya pikir itu paling manis, dan itu ternyata kesalahan besar. Ternyata rasanya asem bukan buatan. Belum habis lagi yang dimulut sudahlah saya muntahkan. Kacaunya beliau tertawa terbahak-bahak.

Lain waktu, beliau bilang, “ini jeruk yang paling manis, percayalah…”. Nah, karena ada unsur traumatik, jadilah saya jawab, “ah.. tak percaya, pian dulu coba, buktikan!”. Pian itu adalah Bahasa Banjar yang padanannya dalam Bahasa Indonesia adalah Anda, dan digunakan pada orang yang lebih tua/dihormati. Dan, mungkin karena merasa tertantang, beliau langsung petik itu jeruk dan makan, untuk membuktikan ucapannya sendiri. “Nah kan… manis”, ucap beliau. Sayanya tinggal bilang, ya percaya kalau begitu.

Kemudian, jangan panggil namaku kalau tak pernah ngerjain mertua lelaki yang hobinya itu memancing, dan kalau malam kami sering sharing macam-macam hal itu.

Pernah pada suatu malam, saya datang dan langsung memberikan kabar. “Bah.. (-Abah, maksudnya), sudah dengar fatwa terbaru? Bahwa bagi wanita muslim dilarang untuk menikah dengan teman laki-laki sekantor, haram hukumnya”. Oh itu dia, mertua saya langsung membahas dengan macam-macam argumen dan logika, dan kubiarkan sajalah dulu. Sampai selesai pembahasannya yang panjang, barulah dibuka, “bagaimana mungkin, menikah dengan 2 (dua) orang lelaki/poliandri saja tidak boleh, apalah lagi sekantor, satu kantor, banyak betul itu”. Apa jawab mertua? Sialan… katanya.

Pernah pula beberapa hari menjelang Hari Raya ‘Idul Fithri, saya datang dan dengan gegap gempita membawa kabar, “Bah… sudah dengar belum? Kalau Shalat ‘Id di Lapangan Murdjani itu akan dimundurkan?”. Beliau kaget, dan biasa, meluncur beberapa pertanyaan plus pembahasan. Sampai sayanya ngasih tau, “Ya harus dimundurkanlah, sebab kalau tak dimundurkan, mau di taruh mana imamnya nanti?”

Tapi haruslah jujur diakui, bahwa sampai saat ini skor masih tidak imbang, beliau masih menang. Tapi yakinlah, itu semata-mata karena jalan hidup beliau yang sudah lebih panjang, lebih banyak yang sudah dialami.

Ah, kalau begini jadi ingat waktu nikah dulu, dimana saat datang sendiri ke rumah calon isteri, sayanya memang datang sendirian, ngomong dengan kedua calon mertua (waktu itu) langsung sendirian, dalam keadaan jobless.

Ingat pula pada saat akan menikah, sesaat turun dari mobil, sontak melihat sesosok tubuh di samping kanan agak serong ke depan, langsunglah diajak salaman, setelah itu bapak menyambut tanganku, barulah sadar, ternyata beliau anggota rombongan, Pak Ketua RT rumahku. Grogi rupanya.

Teringat pula, saat akan mengucapkan akad nikah, itu penghulu yang sudah kukenal betul gaya dan kebiasaannya, yakni akan memberikan kode dengan menggoyang tangan saat mempelai lelaki harus menjawab akad. Beliau berkata, “jangan gugup ya…” dan langsung kontanlah sayanya menjawab, “bukannya gugup Pak, tapi khawatir saya yang goyang duluan”, yang ternyata dalam keadaan mic lagi aktif. Apa kata penghulu, “kalau begitu, maka aku yang akan menjawab”. Jadilah para hadirin dan hadirat tertawa di acara akad nikahku itu, sebab akan berarti akulah yang akan menikahkan penghulu.

Dan… untuk kesekian kalinya, setiap jelang Ramadhan aku rindu padanya, Ibu Mertua Almarhumah, yang semoga hidupnya kini dipenuhi cahaya. Sebab kami semua bersaksi untuk segala kebaikannya. Bukan rasa sedih yang akan kusampaikan padanya, sebab sedih itu untukku, kepentinganku yang kehilangan, hanyalah kusampaikan sebatas rinduku padanya, sewajarnya… Karena itu sudah cukup untukku.

Selamat menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1432 H bagi yang melaksanakannya. Mohon maaf jika ada kesalahan baik melalui tulisan, komentar, dan lain-lain.

Oh iya, tidak lupa disampaikan bahwa saya tidak melayani undangan traktiran makan siang minimal sampai dengan 35 hari ke depan. Maklumlah… semenjak mengalami mimpi basah, sayanya itu kan sudah wajib puasa juga. Hitungan 35 hari itu sudah termasuk pasca ‘Idul Fithri, sebab masih banyak makanan di rumah, atau melakukan serangan ke rumah kawanยฒ. Begitulah…

Salam,

Mhd Wahyu NZ ยฉ mwahyunz.id

32 komentar pada “Menantu dan Mertua”

  1. kepada khalayak ramai, terutama yang suku sunda,
    itu bujur maksudnya adalah bahasa banjar yang berarti benar/betul
    jadi, bujur-bujur itu berarti benar-benar… hahaha…

  2. wewww! meski lum kenal, baru berkunjung sekali tapi da buat diriku nguakakk.. ehhh! suka sekali dg tulisannya apalagi yg kompakan sm mertua.. hohoooo

  3. wah mertua ama menantu kompak banget nich..ada aja yang bisa dijadikan bahan utk saling bersendagurau…..jaga slalu kekompakan ini…!!!

  4. TOP 1 Oli sintetik mobil-motor Indonesia | vulkanisir.info

    […] Wahyu NZ | Banjarbaru Menantu dan Mertua 4 hari yang […]

  5. cerita yang menggugah selera pak seperti biasanya,
    selamat puasa dan menikmati pasar wadai beserta isi-isinya
    ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas