Kabut asap tipis di depan rumah, Kota Banjarbaru.
Kabut asap tipis di depan rumah, Kota Banjarbaru.

Masih Bisa Bersyukur

Jarum jam menunjukkan hanya beberapa menit telah melewati pukul 01.00 Wita. Dini hari tadi. Sementara termometer dinding berada pada garis 30°C, menunjukkan suhu di dalam rumah. Namun kali itu ada yang terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya, terutama untuk beberapa tahun terakhir. Tadi malam asap begitu terasa di dalam rumah.

Ya, soal asap yang berasal dari kebakaran lahan untuk bulan terakhir ini memang berbeda. Khususnya di wilayah pemukiman kami, yang kini lebih terasa. Tadi malam adalah yang paling terasa. Tentu saja jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, yang tidak sampai seperti ini. Rasanya sudah cukup lama tidak mengalami kepekatan asap.

Itu adalah satu hal hal, bahwa masih bisa bersyukur. Sekalipun asap tadi malam adalah paling terasa dibandingkan banyak malam sebelumnya, namun tidak sampai separah dan sepekat bertahun-tahun lalu.

Selain itu, juga ada hal lain yang membuat masih bisa bersyukur. Sekalipun terasa, namun masih tidak separah wilayah lain di Kota Banjarbaru pada kali ini. Pada daerah lain masih ada yang mengalami kepekatan asap yang luar biasa. Beberapa kawan bercerita, bahwa di daerah tinggalnya kadang jarak pandang hanya tersisa beberapa meter. Itu sungguh menyiksa.

Jangan tutup Banjarbaru dengan besi dan beton. Kita masih perlu tanah dan pepohonan! © mwahyunz.id
Jangan tutup Banjarbaru dengan besi dan beton. Kita masih perlu tanah dan pepohonan! © mwahyunz.id

Bahwa asap ini sangat mengganggu? Iya. Banyak orang dan banyak urusan yang terganggu. Bahwa asap ini juga sangat tidak enak, itu pun tentu iya. Bukan hanya tidak nyaman bagi penciuman, namun juga bagi mata, dll. Namun terlepas dari itu semua, bagaimanapun masih ada yang bisa disyukuri, bahwa ada orang lain mengalami yang lebih parah. Ini hanya sebuah cara menyikapi secara pribadi.

Begitu pula dengan soal suhu. Sudah beberapa lama ini rerata suhu di Kota Banjarbaru pada siang hari berkisar antara 32-34°C. Cahaya matahari juga begitu terik, menyengat. Bahkan pada malam hingga subuh hari, akhir-akhir ini rerata pada suhu 30-32°C. Juga bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Namun itu pun masih bisa bersyukur. Setidaknya ini terjadi bukan saat bulan puasa atau bulan Ramadhan.

Tinggal bagaimana meningkatkan rasa syukur atas kondisi ini. Minimal sekali, tidak menjadi bagian dari masalah yang ada saat ini. Itu kalau masih belum bisa menjadi bagian dari solusi untuk mengatasinya. Bisa dimulai dari hal-hal kecil, semisal jangan lagi bakar sampah di pemukiman, atau sejenis itu. Setidaknya ada yang dilakukan untuk tidak menambah potensi masalah. Sekecil apa pun itu. Kupikir begitu.

Salam,

Mhd Wahyu NZ © mwahyunz.id

2 komentar pada “Masih Bisa Bersyukur”

Tinggalkan Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas