Makan Enak atau Enak Makan?

Ketika makan menjadi begitu rumit bagi sebagian orang

Makan, yang dituliskan di sini tentu saja adalah makan dalam artian memasukkan makanan pokok atau sesuatu ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya. Sebuah verba (ver.ba /vèrba/), yakni kata yang menggambarkan proses, perbuatan, atau keadaan alias pula kata kerja. Bukan makan dalam artian lain, semisal mengambil atau mempergunakan dan sebagainya secara tidak sah (milik orang lain atau negara). Karena menurut KBBI, yang begitu itu bisa pula disebut sebagai: makan.

Pendek kata, begitu populer penggunaan media sosial, terutama saat bisa mengirimkan gambar (foto), maka mulailah bertebaran foto-foto makanan di lini masa. Aneka rupa bentuknya, bermacam-macam bahan dasarnya. Mulai dari yang tradisional sampai dengan modern katanya. Selera nusantara hingga makanan mancanegara. Begitu pula tentang tempatnya. Mulai dari rumah sebagaimana biasa, sampai dengan hotel yang entah berapa saja bintangnya. Semua ada. Tak bisa dilupakan, teman-teman yang hobi membagikan ulang postingan resep masakan dengan alasan menyimpan di FB. Soal kapan waktu mempraktekkan, itu soal lain.

Fasilitas media sosial yang kemudian merubah perilaku sebagian penggunanya. Ritual sebelum makan menjadi bertambah dengan usaha mencari angle terbaik untuk mengambil foto makanan. Agar nanti menarik saat dibagikan. Mmmm… dulu sempat pula tertular, sebentar, dan kini sudah tidak lagi. Hanya sesekali, itupun sudah berjanji hanya akan membagikan makanan khalayak ramai sekelas mie instan.

Ketika saat ini mencoba mendata menu yang kemarin disantap saat makan sahur atau berbuka puasa di bulan Ramadhan 1440 H lalu, maka tiga menu utama yang paling mendominasi adalah sapat karing, telang, dan telur dadar. Sapat (ikan sepat) dan ikan telang adalah sama-sama masuk keluarga besar ikan asin. Sementar telur dadar ya bukan telur asin. Sebab belum pernah tau ada telur asin yang dijadikan telur dadar. Sederhana saja. Tapi nikmatnya ooooh… sanggup mengalahkan menu mancanegara. Sekalipun itu subyektif, karena lidah ini memang lidah lokal.

Tapi yang pasti, sudah bisa menjawab pertanyaan sederhana. Lebih memilih makan enak atau enak makan? Maka sudah barang tentu enak makan akan menjadi pilihan. Enak makan tak sekedar soal menu, soal bumbu, soal tempat, dan lain seperti itu. Tapi lebih kepada perasaan, pikiran, suasana. Tentang hal-hal imateriel. Sebab, seenak-enaknya makanan, kalau lagi sakit gigi, jadinya juga tak enak makan.

Ada Tanggapan?

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas