Ketika sambal tak pedas lagi
Indonesia memang kaya dengan variasi sambal. Nama maupun rasa sambal.

Ketika Sambal Tak Pedas Lagi

Tidak semua orang menyukai sambal, dan tidak semua yang suka sambal menyukai sambal yang memang pedas. Mungkin hanya suka cukup pedas saja, pun ada yang suka sambal yang sangat pedas. Itu soal selera yang tidak bisa dipaksakan. Ini pun baru soal tingkat pedasnya sambal. Belum lagi soal bermacam jenis sambal. Indonesia memang kaya dengan variasi sambal. Nama maupun rasa sambal.

Begitu pula ketika memilih tempat makan. Tak jarang faktor sambal menjadi kunci penentu. Makan di warung tertentu karena cocok dengan sambalnya. Sebaliknya, tidak mau makan di warung tertentu karena kurang cocok dengan sambalnya. Sebagaimana kemarin sore, ketika makan bersama mama dan seorang teman, pada sebuah tempat makan yang memang disuka.

Namun sebelum lebih jauh, mengingat komitmen untuk tidak menuliskan kekurangan sebuah usaha orang lain, kali ini tidak akan disampaikan nama dan tempat tempat makan dimaksud. Bahkan untuk menunya pun tidak, sebab cukup spesifik dan mampu mengarahkan orang lain untuk mencurigai tempat tertentu. Tidak, hal itu tidak akan dilakukan.

Hanya saja, ketika kemarin sore kembali ke sana, dan memesan menu lauk yang diinginkan, tentu saja yang terbayang adalah akan menikmatinya bersama sambal yang juga disuka. Ada dua jenis sambal yang biasanya turut disajikan bersama menu tersebut. Keduanya suka. Setelah memesan dan menunggu, akhirnya pesanan itu sampai juga diantarkan ke meja.

Permasalahan pertama sudah bisa diidentifikasi. Pesannya lauk diolah secara ‘polos’ saja, tanpa bumbu yang bermacam-macam. Cukup tambahkan perasan jeruk nipis. Ternyata cukup terasa, ada tambahan bumbu pada olahan lauk yang dipesan. Begitu mencoba tahap selanjutnya, dengan menambahkan sambal. Kembali terasa perubahannya. Sambal tak pedas lagi. Ini masalah bagi seorang penyuka sambal pedas.

Sambal pertama, yang terasa hanya rasa asam. Jauh berbeda dengan pertama kali dulu makan di sana. Begitu mencoba sambal kedua, yang jenisnya berbeda dengan sambal pertama, ternyata tidak terasa pedas lagi. Soal ini sebenarnya sudah pernah disampaikan kepada -mungkin- salah seorang pemilik/pengelola tempat makan tersebut. Ketika itu, pada kunjungan ke sekian kalinya, langsung bertanya kenapa sambalnya kurang pedas jika dibandingkan dengan sebelumnya.

Jawaban yang disampaikan ketika itu adalah bahwa hal tersebut memang disengaja, untuk menyesuaikan dengan lidah konsumen kebanyakan. Itu jawaban yang rasional dan dapat diterima. Karena pemilik tempat makan tentu perlu konsumen agar tetap bertahan. Hanya saja, kali ini rasa pedasnya kembali berkurang. Walau pun sekali lagi, ini adalah masalah yang sangat subyektif. Tergantung pada lidah masing-masing.

Bahwa secara pribadi merasa agak kecewa, ya itu memang benar. Tapi juga tidak dapat menyalahkan. Siapa tahu penyebabnya adalah kembali menyesuaikan dengan lidah konsumen kebanyakan/mayoritas. Atau bisa juga karena daya tangkap pedas lidah ini sudah mulai berubah menjadi makin tahan pedas. Atau memang karena jumlah kapsaisin pada cabai yang digunakan sudah berkurang, atau faktor lainnya.

Sekadar tambahan, tingkat pedasnya cabai memang memiliki ukuran. Namanya SHU, kependekan dari Scoville Heat Units. SHU menunjukkan jumlah kapsaisin yang ada pada cabai, suatu bahan kimia yang merangsang ujung saraf penerima pedas di lidah. Pengukuran tingkat pedas cabai menggunakan Skala Scoville tersebut.

Hanya saja, jika berkurangnya rasa pedas itu disebabkan oleh faktor kesengajaan, maka mungkin perlu disediakan alternatif juga bagi konsumen yang suka pedas das. Sederhana saja, cukup sediakan varian sambal yang sama, namun dengan tingkat pedas yang lebih tinggi. Seperti penjual aneka makanan yang menggunakan level pedas itu, dan menjadi opsi yang dapat dipilih oleh konsumen. Jika tidak banyak yang suka pedas das, maka bisa disediakan dalam jumlah yang sedikit dulu sebagai awal. Tapi ada.

Lantas sore ini teringat pada seorang bapak-bapak penyuka pedas das. Sekali waktu kami makan bersama, dan beliau bilang sambalnya tidak pedas. Usai makan, beliau kuajak ke depan sambil menyampaikan bahwa ada yang lebih pedas dari sambal itu. Sesampainya di depan, aku menunjuk kepada sesuatu sambil berkata bahwa itu lebih pedas dari pada cabai. Beliau mengomel, karena yang kutunjuk itu adalah sendal jepit.

Salam,

Mhd Wahyu NZ © mwahyunz.id

Tinggalkan Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas