Ketika Nama-Nama Mulai Bermunculan

Berapa banyak kita memiliki kerabat, sahabat, atau bahkan mereka yang hanya dua tiga kali bertemu? Atau bahkan hanya sekali bertemu, kemudian berkenalan, dan lantas pulang? Proses identifikasi yang paling mudah dari semua orang tersebut adalah menggunakan nama. Baik nama lengkap, maupun nama panggilan atau gelar, demikian di sini mengistilahkan alias.

Hal yang paling jamak saat ini adalah penggunaan gawai (gadget), lihat saja, semua tersimpan menggunakan nama. Daftar kontak. Bahkan ketika dahulu telepon yang ada hanyalah fixed-line, kita juga memiliki daftar kontak dalam sebuah buku telepon manual. Memang berbentuk buku. Bahkan sampai ada buku khusus dan resmi, yang secara khusus berisi daftar nama berikut nomor teleponnya. Yellow Pages, yang entah sekarang masih ada atau tidak.

Tanpa nama, bayangkan saja betapa susahnya kita menyimpan data seorang kawan. Mungkin harus dengan data yang benar-benar rigid, atau menggunakan penanda khusus. Entah bagaimana jadinya kalau daftar kontak dalam telepon kita berisi daftar ciri seseorang. Seperti, Suka T-Shirt Hitam, atau Dia Topinya Selalu Dibalik, atau Penggemar Berat Mie Instan.

Bahkan nyatanya, penyebutan ciri² seperti itu bisa saja benar² menjadi nama seseorang. Bukankah ada kebudayaan atau kebiasaan masyarakat tertentu yang memberikan nama berdasarkan kepada benda atau kejadian sehari-hari?

Sementara pada sisi lain, para Guru telah pula mengabarkan, nama-nama benda di alam semesta adalah yang pertama kali diajarkan oleh Tuhan kepada Nabi Adam. Pengetahuan akan nama-nama itu pula yang kemudian menegaskan posisi Nabi Adam sebagai manusia sebagai makhluk terbaik. Bahkan para malaikat mengakui itu. Demikian penting dan strategisnya nama.

Lalu… kurun berganti, tempat berbeda. Perihal nama menjadi banyak sekali keterkaitannya. Pada momen maupun hal tertentu, bisa saja nama menjadi cukup sensitif. Tak jarang nama harus ditutupi disebabkan oleh hal-hal tertentu. Bukankah sudah sering mengetahui/membaca nama Mawar atau Kumbang? Yang selalu memiliki tambahan, bukan nama sebenarnya.

Hal yang menarik, ada saatnya tentang nama ini menjadi begitu dinamis. Salah satu momen yang biasanya terjadi seperti ini adalah yang berkaitan dengan peristiwa politik. Pilkada, misalnya. Ada yang senang menebak-nebak nama, ada yang berusaha memunculkan nama, ada yang berusaha menawarkan nama. Macam-macam saja urusan soal nama ini.

Sisi baiknya, ketika nama-nama mulai bermunculan, maka sudah ada kesempatan bagi orang banyak untuk dapat berkenalan dan/atau memperdalam pengetahuan. Sebelum pada akhirnya membuat pilihan. Untuk hal ini, tak perlu sampai tasmiyah-an. Cukup diawali sebuah sapaan dan ucapan, “Perkenalkan…”

Salam,

Mhd Wahyu NZ © mwahyunz.id

Tinggalkan Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas